Halaman

Jumat, 07 Desember 2012

Dazzling girl ( Chapter III )



Tittle                : Dazzling Girl ( Chapter III )
      
Author             : Lee Hana

Main cast        : Kim Ki Bum, Rika ( Imaginary Cast ), Lee Jin Ki

Support Cast    : Lee Tae Min, Kim Jong Hyun, Choi Min Ho dan Shin Jung Eun.

Genre              : Romance and Friendship

Length             : PG-13


...................................

“Jadi kau menyukaiku?” tanya Rika sedikit terkejut.

Ne,” jawab Kibum gugup.

“Sepertinya aku sudah banyak melukaimu. Tapi aku benar-benar minta maaf, aku tidak menyukai laki-laki sepertimu.”

“Laki-laki sepertiku? Apa ada yang salah denganku?”

“Kau seperti banci,” jawab Rika kasar kemudian masuk ke dalam bus yang baru saja datang. Kibum mengikuti. Salah, itu adalah bus yang Kibum naiki untuk mengantarkannya ke rumahnya.


Mereka berdua berdiri bergantungan. Mereka berdiri bersebelahan.

Banci artinya apa?” tanya Kibum penasaran.

“Bisakah kau berhenti bicara?!” bentak Rika membuat Kibum segera menutup mulutnya.

Mereka terdiam selama perjalanan. Terdorong ke kanan dan ke kiri ketika bus berbelok. Semua terkendali hingga tiba-tiba bus berhenti mendadak membuat benda yang tergantung di atap bus terlepas dari tangannya, ia terdorong menuju pelukan Kibum. Kibum meraihnya. Sesaat hawa panas mengelilingi keduanya, membuat jantung Kibum berdebar dan rasanya isi lambungnya terkocok-kocok dan terasa perih.

Rika segera menjauhkan dirinya ketika tersadar. Membuat wajahnya memerah karena rasa malunya yang teramat sangat. Baginya ini benar-benar memalukan.

Beberapa menit kemudian Rika turun lebih dahulu. Tetapi kibum masih diam di tempatnya. Saat itu Kibum menggigit bibirnya seraya berpikir. Tidak jauh dari tempat Rika turun kini turunlah Kibum. Ia mengikuti gadis itu secara diam-diam hingga melihat gadis itu masuk ke dalam sebuah rumah. Kibum tersenyum.

______

“Kau terlambat sekali Kibum-ah,” ujar Jonghyun yang kini tengah duduk di sofa menonton televisi.

“Kenapa di sini?”

“Pertanyaanmu terdengar kurang enak. Tentu karena Ajumma dan Ajussi yang memintaku seperti biasanya,” jawab Jonghyun santai kemudian mematikan TV yang sedari tadi menemaninya menunggu Kibum pulang.

Kibum berjalan menuju kamarnya diikuti Jonghyun dari belakang. Di dalam kamar tersebut mereka meletakkan tas mereka sembarangan, kemudian Kibum melemparkan dirinya ke kasur, ia mendesah.

Jonghyun menyeret sebuah kursi dari  meja komputer Kibum yang kemudian ia letakkan di dekat kasur, mendudukinya dengan posisi terbalik, membuat benda yang biasanya digunakan untuk menyandarkan punggung ia gunakan untuk menyanggah kedua tangan serta dagunya.

“Kibum, sepertinya aku jatuh cinta,” ungkap Jonghyun tiba-tiba membuat Kibum segara bangkit dari posisi terlentangnya. Kibum segera merangkak menuju tepi kasurnya kemudian melipat kakinya dan memeganginya. Ia terlihat antusias mendengar kata-kata sepupunya itu barusan.

“Aku jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Aku kira cinta pada pandangan pertama itu tidak ada, tapi ternyata aku salah. Rasanya jantungku berdebar keras hanya karena aku melihat wajahnya itu Kibum. Aku terus memikirkannya sejak kemarin. Aku serasa hampir gila.”

“Aku juga. Aku juga jatuh cinta padanya pada pandangan pertama, tapi dia bilang aku banci. Apa kau tahu apa artinya?” tanya Kibum antusias. Jonghyun mengangkat bahunya membuat Kibum mendesah. “Apa kata banci itu terdengar buruk Hyung?”

“Mana aku tahu. Kau coba cari saja di internet!”

“Ide bagus!” ujar Kibum semangat seraya menjentikkan jarinya, kemudian segera menarik Jonghyun dari kursinya yang membuat namja itu hampir terjatuh.

Kibum duduk di hadapan komputernya dan mengartikannya di aplikasi penterjemah. “Banci,” ujar keduanya kemudian saling berpandang. Kemudian kembali mencarinya lagi.

“Bukankah itu bagus? Biasanya para wanita berteriak histeris melihat para idola mereka berpenampilan seperti wanita? Atau dia mau bilang kau itu flower boy?”

“Apa benar begitu? Tapi aku rasa bukan. Dia terlihat kesal saat itu. Dia bilang dia tidak menyukaiku.”

“Apa lagi? Dia hanya bersikap jual mahal saja padamu,” ujar Jonghyun sok tahu.

“Benarkah?” gumam Kibum seraya berpikir.

Tiba-tiba Jonghyun menyadari sesuatu, sesuatu yang mengusiknya. “Apa, yang mengatakan hal itu adalah Rika-ssi?” terka Jonghyun harap-harap cemas.

“Ne.”

JLEB!!!

______

“Jungeun-ssi!” panggil Kibum seraya berlari kecil menghampiri gadis itu.

Jungeun berhenti melangkah dan memutar tubuhnya mengahadap Kibum. “Ada apa?”

“Aku ingin bertanya. Apa kau tahu apa artinya banci?”

Mwo?! Banci?” pekik Jungeun.

Ne.

“Itu sebutan bagi seorang pria yang perpenampilan seperti wanita di Indonesia.”

“Apa maksudmu semacam flower boy?”

Jungeun menggelang. “Bukan. Flower boy berarti laki-laki yang memiliki wajah cantik. Tetapi sebutan cantik tidak pernah di gunakan untuk laki-laki di sana. Memang kenapa? Apa Rika menyebutmu begitu?” tanya Jungeun, dan Kibum mengangguk. “Tega sekali dia!” rutuk Jungeun.

“Memang kenapa?” tanya Kibum penasaran melihat wajah Jungeun yang terlihat kesal.

“Sebaiknya kau tidak tahu.”

“Katakan! Itu sungguh membuatku penasaran. Aku tidak mau salah paham hanya karena kata-kata itu,” paksa Kibum.

“Dia mengolokmu Kibum. Itu sebuah olokkan. Sebaiknya kau jauhi Rika! Sepertinya dia benar-benar tidak menyukaimu,” ujar Jungeun menasihati, kemudian pergi meninggalkan Kibum yang terlihat terkejut.

______

Jonghyun mondar mandir di depan kelas Kibum, tetapi bukan Kibum lah yang ia cari, namun seorang gadis yang ia bicarakan pada Kibum tadi malam. Namja itu mondar mandir karena masih bingung dan juga gugup. Ia takut jika masuk ada Kibum di sana. Ini bisa jadi masalah besar untuknya jika Kibum tahu.

Seorang gadis keluar dari kelas, dan itu adalah Rika. Bagi Jonghyun ini adalah keburuntungan. Karenanya ia segera menghampiri gadis berkulit langsat itu.

Annyeonghaseyo!” sapa Jonghyun ramah.

Annyeonghaseyo!”

Emmm......” Jonghyun masih pikir-pikir, tetapi Rika menatapnya dengan pandangan penasaran, memaksa Jonghyun untuk bicara. “Tolong terima ini!” ujar Jonghyun malu-malu seraya menyodorkan sepotong cokelat, membuat Rika terkejut. “Ini sebagai permintaan maaf karena membuatmu pingsan.”

Sebenarnya itu hanyalah alasan yang Jonghyun buat untuk memberikan cokelat itu. Jonghyun ingin memberikannya agar ia bisa lebih dekat lagi dengan Rika. Selain itu ia juga menyadari bahwa ia memiliki banyak saingan.

“Tidak usah. Aku tahu Jong-sunbae tidak sengaja,” tolak Rika halus.

“Tolong terimalah!” mohon Jonghyun.

Rika mengambilnya karena tidak tega. “Gomaweo.

“Kau teman Kibum kan? Aku kakak sepupunya. Apa dia mengganggumu? Jika iya kau bisa katakan padaku, nanti biar aku yang menegurnya.”

Ani. Sikapnya baik padaku,” ujar Rika, dan entah mengapa ia menjadi merasa bersalah pada Kibum.

“Jong-hyung, apa yang kau lakukan di sini?” tiba-tiba suara itu membuat keduanya menoleh ke arah Kibum. Sedangkan Kibum menatap cokelat yang Rika pegang.

“Aku habis meminta maaf pada Rika atas kejadian kemarin,” jawab Jonghyun sedikit gugup.

“Aku pergi dulu,” pamit Rika kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.

“Apa orang itu Rika?” terka Kibum.

“Jangan salah paham.”

“Kau memberikannya cokelat. Aku tahu orang seperti apa kau itu Jong-hyung. Kenapa kau tega sekali melakukan ini padaku? Kau kan tahu aku menyukainya Hyung?”

Mianhaeyo. Lalu aku harus bagaimana? Aku juga menyukainya. Lagi pula kau juga memiliki Jinki sebagai sainganmu. Meski pun si kutu buku itu tidak mengatakannya padaku tapi aku tahu dia menyukainya. Apa kau tahu? Dia sering menelepon Rika.”

Keduanya mendesah. Rasanya ini benar-benar berat bagi keduanya.

______

Rika menjauh dari mereka masih dengan cokelat dalam genggamannya. Entah kenapa ia masih memikirkan apa yang ia katakan tadi.

Jungeun!” ujar Rika ketika melihat Jungeun menghampirinya dengan wajah kecut.

Kenapa kau mengatakan kata-kata sekasar itu pada Kibum?” tanya Jungeun ketus.

Apa dia mengatakannya padamu? Kenapa mulutnya bocor sekali.”

“Kau keterlaluan Rika! Aku tahu kau tidak menyukainya, tapi caramu itu salah.”

“Kalau begitu beritahu aku cara yang benar! Sepertinya kau sangat menyukainya,” olok Rika kesal.

“Kenapa kamu bicara begitu? Bukankah kamu tahu aku menyukai Choi Minho. Jadi kau pikir aku wanita seperti itu? Aku tidak menyangka kau adalah orang seperti itu,”ujar Jungeun marah kemudian pergi meninggalkannya.

Setelah kepergian Jungeun Rika benar-benar terpuruk. Ia menjadi semakin merasa bersalah karena itu ia pergi ke ruang rapat. Di gedung ini hanya ruangan itulah yang paling sepi dan sunyi.

Rika duduk sendirian di sana dan mulai menangis tersedu. Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja kemudian menggelamkan wajahnya.

“Rika-ssi?” panggil seseorang yang baru saja terbangun dari tidurnya karena mendengar suara tangisan Rika yang bisa dibilang cukup kencang.

Rika segera mengangkat kepalanya. Dilihatnya seorang namja dengan tubuh tinggi tengah berdiri agak jauh darinya. Melihat matanya yang sedikit bengkak serta mulut yang terus menguap membuatnya sadar bahwa ia telah mengganggu waktu istirahat seseorang.

Rika segera menyeka air matanya dan mengentikan tangisannya.

Wae?” tanya Minho.

“Jungeun marah padaku,” jawab Rika begitu terbuka. Rika bukanlah orang yang mudah mengatakan masalahnya pada orang yang tidak dekat dengannya. Tetapi jika Minho, entah kenapa Rika merasa namja itu bisa dipercaya dan bisa membuatnya nyaman.

Minho menghampiri Rika dan duduk di sampingnya. “Kenapa bisa marah?”

“Aku berkata kasar padanya.”

“Kalau begitu cepatlah minta maaf!”

“Apa menurutmu Jungeun akan memaafkanku?”

“Jika kau tidak mencobanya bagaimana kamu tahu?”

Rika berpikir sebentar. “Kamu benar. Emmm... sebenarnya aku merasa belakangan ini aku sedikit berubah. Aku merasa menjadi gadis yang jahat,” ungkap Rika.

“Apa maksudmu sikapmu pada Kibum-ya?”

“Ba-bagaimana kau tahu?” tanya Rika sedikit terkejut.

“Dia bilang kau membencinya dan ketus padanya.”

Rika menghela napas kemudian menenggelamkan kepalanya lagi.

“Apa kau mau ikut aku?”

Rika kembali mengangkat kepalanya. “Kemana?”

Minho segera berdiri dan meraih tangan Rika sambil tersenyum lebar, Rika menatap heran, alisnya bertaut tapi Minho malah menarik tangan gadis itu meninggalkan tempat sepi itu.

Yah! Kita mau kemana Minho-ssi?”

______

Jinki berjalan menuju kelasnya. Di sela perjalanannya ia melihat dua sosok manusia yang begitu ia kenal. Sepasang yeoja dan namja yang tengah berlari dengan mengaitkan tangan mereka, membuat Jinki menghentikan langkahnya sesaat.

Jinki segera berlari ketika dua orang itu menghilang di balik tembok. Berlari secepat mungkin, berharap ia tidak kehilangan mereka. Sungguh ingin memastikan di sela perasaan terkejut bercampur harapan bahwa yang ia lihat itu salah. Tanpa ia sadari ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.

Jinki berhenti berlari ketika ia melihat lorong di hadapannya kosong. Seseorang menepuk bahunya dengan tiba-tiba membuatnya sontak berbalik.

“Ada apa Hyung?” tanya Taemin bingung.

“Kau mengejutkanku Taemin-ah!” protes Jinki seraya memegangi dadanya yang berdegup kencang.

“Kenapa kau berlari?

“Apa Rika dan Minho dekat?”

“Apa maksudmu?”

______

Minho melepaskan genggamannya dan berhenti tepat di sebuah taman. Tempat itu terletak di balik gedung tempat mereka belajar, di sana sangat sepi dan juga teduh. Pohon-pohon rindang tegak berdiri dengan daun yang gugur memenuhi tempat itu.

“Kita mau apa di sini?” tanya Rika bingung sambil melihat sekeliling.

Minho tersenyum manis kemudian kembali melangkah tanpa mengatakan apapun. Rika mengikutinya, memasuki pepohonan itu dan mengintip ke dalam semak-semak.

Mata Rika terbelalak. Ia menutup mulutnya, kemudian memandang Minho dengan tatapan tidak percaya. “Minho-ya!” ujar Rika senang.

“Lucu kan? Aku menemukannya beberapa hari lalu.”

Rika mengambil seekor kucing berwarna putih dan Minho mengambil kucing yang berwarna hitam. “Mereka benar-benar lucu,” ujar Rika gemas seraya mengusap-usap kepala si kucing. “Siapa nama mereka?”

“Aku tidak tahu.”

“Tidak tahu? Kau kan yang menemukannya. Tentu kamu harus memberinya nama,” protes Rika kemudian berpikir.

“Emmm...bagaimana kalau Rika?” canda Minho seraya mengangkat kucing ke hadapan Rika dan menggoyang-goyangkannya.

“Kenapa namaku? Apa aku mirip kucing?” protes Rika dengan bibir sedikit maju.

“Karena kalian sama-sama manis,” ujar Minho kemudian tersenyum tipis membuat semburat merah muda muncul di pipi gadis itu.

______

Seperti biasanya, Rika adalah siswa yang paling terakhir keluar dari kelasnya. Bukan karena apa-apa, hanya saja dia selalu mengecek barang-barangnya terlebih dahulu dan mencatat pekerjaan rumahnya.

Saat ini Rika tengah memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya dan bersiap pergi, tetapi pandangannya teralih ketika melihat seorang namja masuk secara diam-diam ke kelasnya. Itu adalah Kim Kibum. Namja itu memandangi Rika dengan tajam.

Rika segera menggendong tasnya dan berjalan. Ia berjalan seolah-olah tidak ada siapapun di sana. Keduanya sama-sama membisu hingga sebuah kata terlontar dari mulut Kibum ketika Rika sudah melewatinya beberapa langkah. “Berhenti!”

Tiba-tiba suasana menjadi semakin tegang....

“Kenapa kau begitu membenciku? Kenapa kau mengolokku? Apa? Apa salahku padamu?” tuntut Kibum merasa tidak terima dengan perlakuan yang ia terima dari gadis itu.
Rika kembali melangkahkan kakinya. Mencoba menghindari keadaan seperti ini dengan perasaan gundah. Sungguh ia tidak tenang.

Kibum meraih tangan yeoja itu dan menariknya. Membuat mereka saling berhadapan dalam jarak yang begitu dekat, membuat mata mereka saling bertatap. Mata Kibum menatapnya tajam, membuat jantung Rika berdebar.

“Kenapa kau selalu menghindar?” tanya Kibum lagi.

“Karena aku tidak mau melihatmu. Dihadapanmu aku merasa menjadi gadis yang jahat. Jika kau bertanya apa salahmu, maka jawabannya tidak ada. Dan jika kau bertanya kenapa aku membencimu, jawabannya...” Rika berhenti bicara membuat Kibum semakin penasaran.

“Apa alasannya? Katakan padaku!”

“Tidak tahu! Aku tidak tahu! Karena itu aku marah padamu. Karena kau membuatku bingung Kibum-ssi. Aku hanya tidak suka melihat penampilanmu. Rambut berwarna, memakai anting, menyukai warna pink, suka bercermin dan bergaya. Karena itu aku mengatakan dirimu banci. Apa tidak boleh aku membenci seseorang tanpa alasan? Kumohon jangan bertanya lagi!” bentak Rika penuh dengan emosi. Ia benar-benar sedih sekarang.

Kibum melepaskan genggaman tangannya. “Lalu aku harus bagaimana?” tanya Kibum putus asa.

“Kau tidak perlu melakukan apapun, karena aku sudah meyukai orang lain,” jawab Rika membuat Kibum terbelalak. Rasanya jantungnya itu melompat-lompat dan hampir terlepas. “Seseorang yang dewasa, pintar, baik, sopan dan tahu bagaimana cara membuatku nyaman,” sambung Rika.

“Jinki-hyung? Maksudmu Lee Jinki?” terka Kibum.

“Mianhae!”

“Kau tidak boleh meyukainya! Aku akan berubah untukmu. Kumohon! Jangan menyukai laki-laki selain aku, karena hanya kau yang aku sukai. Sama sepertimu yang membenciku tanpa alasan, aku juga menyukai tanpa alasan.”

Kibum pergi meninggalkan Rika sendirian di sana. Saat ini hatinya benar-benar sakit hingga rasanya ia ingin menangis. Kini ia berlari menjauh dari tempat itu, berharap tak ada satu pun orang yang melihat keadaannya yang begitu menyedihkan.

______


At 19:00 Waktu Korea....

Jinki sedang berada di depan komputernya seperti biasanya. Sedangkan Taemin memang sedang sibuk mengerjakan PR matematika di kamar Hyungnya itu. Maklum, dia memang tidak terlalu pandai dalam pelajaran yang satu itu, karenanya ia meminta bantuan Hyung-nya untuk mengajarinya.

Sebuah box chat terbuka, itu dari Rika. Salah, itu dari adiknya Risa. Gadis ABG itu bertanya pada Jinki karena khawatir kakak satu-satunya itu belum juga pulang.

Pulang terlambat tanpa memberi kabar bukanlah kebiasaan Rika. Karena itu Keluarga Wibowo, keluarga Rika sangat khawatir. Terlebih lagi ponsel gadis itu tidak bisa dihubungi serta Rika yang masih belum familiar tempat tinggal mereka membuat mereka semakin cemas.

Jinki sungguh tidak tahu. Harusnya jam segini sekolah sudah kosong. Ia cemas, karena itu ia segera mematikan komputer di hadapannya.

“Taemin-ah! Bisakah kau membantuku?”

“Tidak Hyung. Jangan sekarang! Aku masih sibuk dengan ini,” tolak Taemin seraya menunjuk-nunjuk soal-soal di bukunya yang belum terpecahkan jawabannya.

“Ini mendesak. Nanti aku akan mengerjakannya, dan kau tinggal menyalinnya saja,” rujuk Jinki yang sudah gelagapan.

Taemin tersenyum puas. “OK. Mwo?”

“Bantu aku mencari Rika-ya. Adiknya memintaku membantu mencarinya. Dia bilang Rika-ya belum pulang dan ponselnya tidak bisa dihubungi,” jelas Jinki.

Hyung! Harusnya kau katakan itu dari tadi!” bentak Taemin. “Kajja!”

“Tunggu dulu! Kita harus meminta bantuan yang lain. Kau menghubungi Jonghyun, Kibum dan Minho! Sedangkan aku akan bersiap menyalakan motor dulu,” perintah Jinki cepat.

Taemin mengangguk mantap dan Jinki segera menyambar jaket dan kunci motornya, kemudian berlari menuju garasi.

Taemin mulai menghubungi mereka satu persatu sambil sibuk memakai jaket dan turun menyusul Hyung-nya. Semua yang Taemin hubungi memberikan tanggapan yang sama, yaitu nada terkejut yang keluar dari mulut mereka dan terdengar seperti pekikkan hingga Taemin harus sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya. Tapi ada satu orang yang tidak memberi tanggapan apapun, dia adalah Kibum. Tentu saja, namja itu tidak bisa dihubungi.

______


Sekitar setengah jam kemudian mereka sudah berkumpul semua di gerbang sekolah. Mereka datang dari segala penjuru arah dengan ekspresi yang sama, khawatir. Mereka berdiri melingkar, hampir terlihat seperti musyawarah kilat.

Mereka membagi tugas mereka, menyusuri setiap tempat yang mungkin atau tidak mugkin Rika datangi. Semua bergerak cepat. Berpencar dan mencari ke setiap sudut tempat yang mereka datangi. Tetapi hingga malam telah larut mereka belumjuga menemukannya.

Hyung, sepertinya Rika-ssi memang tidak ada di sekolah,” ujar Taemin.

“Aku setuju dengan Taemin,” Timpal Jonghyun yang sudah terlihat cukup lelah dan berkeringat.

“Tapi dimana lagi? Ibunya bilang dia tidak tahu tempat lain selain sekolah ini,” bantah Jinki.

“Mungkin saja di sekitar tempat ini, Hyung,” saran Minho.

“Kita coba saja, Hyung,” ujar Taemin setuju.

Mereka semua kembali mencari di sekitar sekolah tetapi sama-sama berakhir nihil. Mereka begitu lelah karena mencari gadis itu hingga tengah malam, karenanya mereka memilih untuk pulang dan mencarinya kembali besok.

Tetapi ada seseorang yang tetap kukuh ingin tetapi berada di tempat itu meski telah mencari berjam-jam lamanya. Namja itu adalah Lee Jinki. Ia mencari, terus saja mencari. Mancari gadis itu dengan penuh kekhawatiran yang semakin bertambah di setiap detiknya. Kakinya terus melangkah dan matanya memandang awas ke penjuru arah.

Kaki Jinki terus berjalan semakin jauh dan semakin jauh saja dari sekolah hingga ia menghentikan langkahnya di sebuah tempat yang bahkan tidak pernah ia pikirkan sebelumnya.

Di sana namja itu melihat seorang yeoja tengah duduk dan bersandar pada tiang halte. Ia menedang-nendang lantai dengan ujung kakinya seraya menatap kosong.

Jinki berlari menghampirinya dan berdiri tepat di hadapannya. Rika melihat sepasang kaki di hadapannya karenanya ia segera mengangkat wajahnya untuk melihat seseorang di hadapannya. Ia melihat Jinki tengah berdiri tegap dengan terengah-engah dan berkeringat di sekujur tubuhnya.

Rika berdiri dan Jinki langsung memeluknya tanpa mengatakan apapun. Di telinganya ia mendengar hembusan napas namja itu yang begitu berat dengan udara panas yang menyentuh telinganya yang dingin, serta suhu panas yang berasal dari tubuh laki-laki yang karena sejak tadi tidak berhenti berlari.

Jinki melepas pelukannya. “Kau membuatku khawatir Rika-ya,” ujar Jinki lembut kemudian memeluk gadis itu kembali.

Rika melepaskan pelukan Jinki. “Oppa, kamu kenapa?” tanya Rika bingung.

“Kamu yang kenapa?! Kami mencarimu semalaman tahu?!” bentak Jinki kesal. “Sebenarnya ada masalah apa?”

Rika menggeleng. “Memang siapa saja yang mencariku?”

“Aku, Taemin-ah, Minho-ah, Jonghyun-ya dan tentunya keluargamu.”

“Kibum-ssi, tidak ikut mencariku?” tanya Rika kecewa.

Jinki meggeleng. “Ani. Dia tidak bisa dihubungi,” jawab Jinki. Jinki melihat kekecewaan di wajah Rika. Karena itu ia menjadi cemburu. “Sa-sa-sa......,” Jinki gugup. Ia berusaha mengatakan sesuatu dalam keadaan yang bisa dikatakan romantis.

Mw,o Oppa?” tanya Rika bingung.

Sa-saranghaeyo Rika-ya!” ungkap Jinki tiba-tiba setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya.

Seperti ada hembusan angin lembut yang menghempas Rika. Ini terlalu mendadak. Bahkan membuat gadis itu sulit berkata-kata. Entah kenapa bibirnya kaku, meski ia begitu ingin membalas kata-kata itu. Ia merasa ada sesuatu yang menahannya. Matanya terbelalak, begitu juga tubuhnya yang sulit untuk bergerak.

“Ma-maukah kamu menjadi kekasihku?” tanya Jinki gugup dengan mata menatap Rika.
...................................

To be continued....

.....Semua siswa tidak ada satu pun yang mengenali Ki Bum dengan penampilan barunya itu. Selain itu wara siswi berdecak kagum dengan puji-pujian yang terlontar dari mulut mereka ketika Ki Bum berjalan melewati mereka.

...................................

Begitu juga Rika, gadis yang Ki Bum suka. Ia terlihat sangat terkejut. Gadis itu terpaku. Ia memandangi Ki Bum yang sekarang mendatanginya.
______

......Bahkan saat ini Pemuda itu memandang dua buah tangan tengah bertaut.

Rika            : “Oppa!

Jin Ki        : “Dia kekasihku sekarang. Jadi tolong jangan ganggu dia lagi!”
______

Rika            : “A-aku, aku minta maaf, Ki Bum-ssi.”

Kibum        : “......Kau harus menjadi milikku Rika-ssi.

..... Rika saat itu masih saja mematung tidak bergerak...... pingsan di lantai dengan tiba-tiba.
______

Jinki          : “Kamu diam saja, Min Ho-ah! Aku punya urusan yang harus kuselesaikan dengannya sekarang.”

 Minho        : “Tapi...”

Kibum        : “Biarkan dia Min Ho-ya!”
______

Jungeun      : “ Sebenarnya tadi terjadi perkelahian antara Ki Bum dan Jin Ki....”

Rika  _        : “Lalu apa yang terjadi?”
Jungeun      : “....Di katakan mereka berdua memperebutkanmu. Dan bahkan ada yang bilang kau tidak masuk karena kau dihamili Ki Bum.”

Rika          : “Mwo?!.....”
______

Tidak ada komentar:

Posting Komentar