Tittle : Dazzling Girl ( Chapter III )
Author : Lee Hana
Main cast : Kim Ki Bum, Rika ( Imaginary Cast ), Lee Jin Ki
Support Cast : Lee Tae Min, Kim Jong Hyun, Choi Min Ho dan Shin Jung Eun.
Genre :
Romance and Friendship
Length : PG-13
...................................
“Jadi
kau menyukaiku?” tanya Rika sedikit terkejut.
“Ne,” jawab Kibum gugup.
“Sepertinya
aku sudah banyak melukaimu. Tapi aku benar-benar minta maaf, aku tidak menyukai
laki-laki sepertimu.”
“Laki-laki
sepertiku? Apa ada yang salah denganku?”
“Kau
seperti banci,” jawab Rika kasar
kemudian masuk ke dalam bus yang baru saja datang. Kibum mengikuti. Salah, itu
adalah bus yang Kibum naiki untuk mengantarkannya ke rumahnya.
Mereka
berdua berdiri bergantungan. Mereka berdiri bersebelahan.
“Banci artinya apa?” tanya Kibum
penasaran.
“Bisakah
kau berhenti bicara?!” bentak Rika membuat Kibum segera menutup mulutnya.
Mereka
terdiam selama perjalanan. Terdorong ke kanan dan ke kiri ketika bus berbelok.
Semua terkendali hingga tiba-tiba bus berhenti mendadak membuat benda yang
tergantung di atap bus terlepas dari tangannya, ia terdorong menuju pelukan
Kibum. Kibum meraihnya. Sesaat hawa panas mengelilingi keduanya, membuat
jantung Kibum berdebar dan rasanya isi lambungnya terkocok-kocok dan terasa
perih.
Rika
segera menjauhkan dirinya ketika tersadar. Membuat wajahnya memerah karena rasa
malunya yang teramat sangat. Baginya ini benar-benar memalukan.
Beberapa
menit kemudian Rika turun lebih dahulu. Tetapi kibum masih diam di tempatnya.
Saat itu Kibum menggigit bibirnya seraya berpikir. Tidak jauh dari tempat Rika
turun kini turunlah Kibum. Ia mengikuti gadis itu secara diam-diam hingga
melihat gadis itu masuk ke dalam sebuah rumah. Kibum tersenyum.
______
“Kau
terlambat sekali Kibum-ah,” ujar
Jonghyun yang kini tengah duduk di sofa menonton televisi.
“Kenapa
di sini?”
“Pertanyaanmu
terdengar kurang enak. Tentu karena Ajumma
dan Ajussi yang memintaku seperti
biasanya,” jawab Jonghyun santai kemudian mematikan TV yang sedari tadi
menemaninya menunggu Kibum pulang.
Kibum
berjalan menuju kamarnya diikuti Jonghyun dari belakang. Di dalam kamar
tersebut mereka meletakkan tas mereka sembarangan, kemudian Kibum melemparkan
dirinya ke kasur, ia mendesah.
Jonghyun
menyeret sebuah kursi dari meja komputer
Kibum yang kemudian ia letakkan di dekat kasur, mendudukinya dengan posisi
terbalik, membuat benda yang biasanya digunakan untuk menyandarkan punggung ia
gunakan untuk menyanggah kedua tangan serta dagunya.
“Kibum,
sepertinya aku jatuh cinta,” ungkap Jonghyun tiba-tiba membuat Kibum segara
bangkit dari posisi terlentangnya. Kibum segera merangkak menuju tepi kasurnya
kemudian melipat kakinya dan memeganginya. Ia terlihat antusias mendengar
kata-kata sepupunya itu barusan.
“Aku
jatuh cinta padanya pada pandangan pertama. Aku kira cinta pada pandangan
pertama itu tidak ada, tapi ternyata aku salah. Rasanya jantungku berdebar
keras hanya karena aku melihat wajahnya itu Kibum. Aku terus memikirkannya
sejak kemarin. Aku serasa hampir gila.”
“Aku
juga. Aku juga jatuh cinta padanya pada pandangan pertama, tapi dia bilang aku banci. Apa kau tahu apa artinya?” tanya
Kibum antusias. Jonghyun mengangkat bahunya membuat Kibum mendesah. “Apa kata banci itu terdengar buruk Hyung?”
“Mana
aku tahu. Kau coba cari saja di internet!”
“Ide
bagus!” ujar Kibum semangat seraya menjentikkan jarinya, kemudian segera
menarik Jonghyun dari kursinya yang membuat namja itu hampir terjatuh.
Kibum
duduk di hadapan komputernya dan mengartikannya di aplikasi penterjemah. “Banci,” ujar keduanya kemudian saling
berpandang. Kemudian kembali mencarinya lagi.
“Bukankah
itu bagus? Biasanya para wanita berteriak histeris melihat para idola mereka
berpenampilan seperti wanita? Atau dia mau bilang kau itu flower boy?”
“Apa
benar begitu? Tapi aku rasa bukan. Dia terlihat kesal saat itu. Dia bilang dia
tidak menyukaiku.”
“Apa
lagi? Dia hanya bersikap jual mahal saja padamu,” ujar Jonghyun sok tahu.
“Benarkah?”
gumam Kibum seraya berpikir.
Tiba-tiba
Jonghyun menyadari sesuatu, sesuatu yang mengusiknya. “Apa, yang mengatakan hal
itu adalah Rika-ssi?” terka Jonghyun harap-harap cemas.
“Ne.”
JLEB!!!
______
“Jungeun-ssi!” panggil Kibum seraya berlari kecil
menghampiri gadis itu.
Jungeun
berhenti melangkah dan memutar tubuhnya mengahadap Kibum. “Ada apa?”
“Aku
ingin bertanya. Apa kau tahu apa artinya banci?”
“Mwo?! Banci?” pekik Jungeun.
“Ne.”
“Itu
sebutan bagi seorang pria yang perpenampilan seperti wanita di Indonesia.”
“Apa
maksudmu semacam flower boy?”
Jungeun
menggelang. “Bukan. Flower boy
berarti laki-laki yang memiliki wajah cantik. Tetapi sebutan cantik tidak
pernah di gunakan untuk laki-laki di sana. Memang kenapa? Apa Rika menyebutmu
begitu?” tanya Jungeun, dan Kibum mengangguk. “Tega sekali dia!” rutuk Jungeun.
“Memang
kenapa?” tanya Kibum penasaran melihat wajah Jungeun yang terlihat kesal.
“Sebaiknya
kau tidak tahu.”
“Katakan!
Itu sungguh membuatku penasaran. Aku tidak mau salah paham hanya karena
kata-kata itu,” paksa Kibum.
“Dia
mengolokmu Kibum. Itu sebuah olokkan. Sebaiknya kau jauhi Rika! Sepertinya dia
benar-benar tidak menyukaimu,” ujar Jungeun menasihati, kemudian pergi meninggalkan
Kibum yang terlihat terkejut.
______
Jonghyun
mondar mandir di depan kelas Kibum, tetapi bukan Kibum lah yang ia cari, namun
seorang gadis yang ia bicarakan pada Kibum tadi malam. Namja itu mondar mandir
karena masih bingung dan juga gugup. Ia takut jika masuk ada Kibum di sana. Ini
bisa jadi masalah besar untuknya jika Kibum tahu.
Seorang
gadis keluar dari kelas, dan itu adalah Rika. Bagi Jonghyun ini adalah
keburuntungan. Karenanya ia segera menghampiri gadis berkulit langsat itu.
“Annyeonghaseyo!” sapa Jonghyun ramah.
“Annyeonghaseyo!”
“Emmm......” Jonghyun masih pikir-pikir,
tetapi Rika menatapnya dengan pandangan penasaran, memaksa Jonghyun untuk
bicara. “Tolong terima ini!” ujar Jonghyun malu-malu seraya menyodorkan
sepotong cokelat, membuat Rika terkejut. “Ini sebagai permintaan maaf karena
membuatmu pingsan.”
Sebenarnya
itu hanyalah alasan yang Jonghyun buat untuk memberikan cokelat itu. Jonghyun
ingin memberikannya agar ia bisa lebih dekat lagi dengan Rika. Selain itu ia
juga menyadari bahwa ia memiliki banyak saingan.
“Tidak
usah. Aku tahu Jong-sunbae tidak
sengaja,” tolak Rika halus.
“Tolong
terimalah!” mohon Jonghyun.
Rika
mengambilnya karena tidak tega. “Gomaweo.”
“Kau
teman Kibum kan? Aku kakak sepupunya. Apa dia mengganggumu? Jika iya kau bisa
katakan padaku, nanti biar aku yang menegurnya.”
“Ani. Sikapnya baik padaku,” ujar Rika,
dan entah mengapa ia menjadi merasa bersalah pada Kibum.
“Jong-hyung, apa yang kau lakukan di sini?”
tiba-tiba suara itu membuat keduanya menoleh ke arah Kibum. Sedangkan Kibum
menatap cokelat yang Rika pegang.
“Aku
habis meminta maaf pada Rika atas kejadian kemarin,” jawab Jonghyun sedikit gugup.
“Aku
pergi dulu,” pamit Rika kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
“Apa
orang itu Rika?” terka Kibum.
“Jangan
salah paham.”
“Kau
memberikannya cokelat. Aku tahu orang seperti apa kau itu Jong-hyung. Kenapa kau tega sekali melakukan
ini padaku? Kau kan tahu aku menyukainya Hyung?”
“Mianhaeyo. Lalu aku harus bagaimana? Aku
juga menyukainya. Lagi pula kau juga memiliki Jinki sebagai sainganmu. Meski
pun si kutu buku itu tidak mengatakannya padaku tapi aku tahu dia menyukainya.
Apa kau tahu? Dia sering menelepon Rika.”
Keduanya
mendesah. Rasanya ini benar-benar berat bagi keduanya.
______
Rika
menjauh dari mereka masih dengan cokelat dalam genggamannya. Entah kenapa ia
masih memikirkan apa yang ia katakan tadi.
“Jungeun!” ujar Rika ketika melihat
Jungeun menghampirinya dengan wajah kecut.
“Kenapa kau mengatakan kata-kata sekasar itu
pada Kibum?” tanya Jungeun ketus.
“Apa dia mengatakannya padamu? Kenapa
mulutnya bocor sekali.”
“Kau keterlaluan Rika! Aku tahu kau
tidak menyukainya, tapi caramu itu salah.”
“Kalau begitu beritahu aku cara
yang benar! Sepertinya kau sangat menyukainya,” olok
Rika kesal.
“Kenapa kamu bicara begitu?
Bukankah kamu tahu aku menyukai Choi Minho. Jadi kau pikir aku wanita seperti
itu? Aku tidak menyangka kau adalah orang seperti itu,”ujar
Jungeun marah kemudian pergi meninggalkannya.
Setelah
kepergian Jungeun Rika benar-benar terpuruk. Ia menjadi semakin merasa bersalah
karena itu ia pergi ke ruang rapat. Di gedung ini hanya ruangan itulah yang
paling sepi dan sunyi.
Rika
duduk sendirian di sana dan mulai menangis tersedu. Ia meletakkan kedua
tangannya di atas meja kemudian menggelamkan wajahnya.
“Rika-ssi?” panggil seseorang yang baru saja
terbangun dari tidurnya karena mendengar suara tangisan Rika yang bisa dibilang
cukup kencang.
Rika
segera mengangkat kepalanya. Dilihatnya seorang namja dengan tubuh tinggi
tengah berdiri agak jauh darinya. Melihat matanya yang sedikit bengkak serta
mulut yang terus menguap membuatnya sadar bahwa ia telah mengganggu waktu
istirahat seseorang.
Rika
segera menyeka air matanya dan mengentikan tangisannya.
“Wae?” tanya Minho.
“Jungeun
marah padaku,” jawab Rika begitu terbuka. Rika bukanlah orang yang mudah
mengatakan masalahnya pada orang yang tidak dekat dengannya. Tetapi jika Minho,
entah kenapa Rika merasa namja itu bisa dipercaya dan bisa membuatnya nyaman.
Minho
menghampiri Rika dan duduk di sampingnya. “Kenapa bisa marah?”
“Aku
berkata kasar padanya.”
“Kalau
begitu cepatlah minta maaf!”
“Apa
menurutmu Jungeun akan memaafkanku?”
“Jika
kau tidak mencobanya bagaimana kamu tahu?”
Rika
berpikir sebentar. “Kamu benar. Emmm... sebenarnya aku merasa belakangan ini
aku sedikit berubah. Aku merasa menjadi gadis yang jahat,” ungkap Rika.
“Apa
maksudmu sikapmu pada Kibum-ya?”
“Ba-bagaimana
kau tahu?” tanya Rika sedikit terkejut.
“Dia
bilang kau membencinya dan ketus padanya.”
Rika
menghela napas kemudian menenggelamkan kepalanya lagi.
“Apa
kau mau ikut aku?”
Rika
kembali mengangkat kepalanya. “Kemana?”
Minho
segera berdiri dan meraih tangan Rika sambil tersenyum lebar, Rika menatap
heran, alisnya bertaut tapi Minho malah menarik tangan gadis itu meninggalkan
tempat sepi itu.
“Yah! Kita mau kemana Minho-ssi?”
______
Jinki
berjalan menuju kelasnya. Di sela perjalanannya ia melihat dua sosok manusia
yang begitu ia kenal. Sepasang yeoja dan namja yang tengah berlari dengan
mengaitkan tangan mereka, membuat Jinki menghentikan langkahnya sesaat.
Jinki
segera berlari ketika dua orang itu menghilang di balik tembok. Berlari secepat
mungkin, berharap ia tidak kehilangan mereka. Sungguh ingin memastikan di sela
perasaan terkejut bercampur harapan bahwa yang ia lihat itu salah. Tanpa ia
sadari ada seseorang yang mengikutinya dari belakang.
Jinki
berhenti berlari ketika ia melihat lorong di hadapannya kosong. Seseorang
menepuk bahunya dengan tiba-tiba membuatnya sontak berbalik.
“Ada
apa Hyung?” tanya Taemin bingung.
“Kau
mengejutkanku Taemin-ah!” protes
Jinki seraya memegangi dadanya yang berdegup kencang.
“Kenapa
kau berlari?
“Apa
Rika dan Minho dekat?”
“Apa
maksudmu?”
______
Minho
melepaskan genggamannya dan berhenti tepat di sebuah taman. Tempat itu terletak
di balik gedung tempat mereka belajar, di sana sangat sepi dan juga teduh.
Pohon-pohon rindang tegak berdiri dengan daun yang gugur memenuhi tempat itu.
“Kita
mau apa di sini?” tanya Rika bingung sambil melihat sekeliling.
Minho
tersenyum manis kemudian kembali melangkah tanpa mengatakan apapun. Rika
mengikutinya, memasuki pepohonan itu dan mengintip ke dalam semak-semak.
Mata
Rika terbelalak. Ia menutup mulutnya, kemudian memandang Minho dengan tatapan
tidak percaya. “Minho-ya!” ujar Rika senang.
“Lucu
kan? Aku menemukannya beberapa hari lalu.”
Rika
mengambil seekor kucing berwarna putih dan Minho mengambil kucing yang berwarna
hitam. “Mereka benar-benar lucu,” ujar Rika gemas seraya mengusap-usap kepala
si kucing. “Siapa nama mereka?”
“Aku
tidak tahu.”
“Tidak
tahu? Kau kan yang menemukannya. Tentu kamu harus memberinya nama,” protes Rika
kemudian berpikir.
“Emmm...bagaimana
kalau Rika?” canda Minho seraya mengangkat kucing ke hadapan Rika dan
menggoyang-goyangkannya.
“Kenapa
namaku? Apa aku mirip kucing?” protes Rika dengan bibir sedikit maju.
“Karena
kalian sama-sama manis,” ujar Minho kemudian tersenyum tipis membuat semburat
merah muda muncul di pipi gadis itu.
______
Seperti
biasanya, Rika adalah siswa yang paling terakhir keluar dari kelasnya. Bukan
karena apa-apa, hanya saja dia selalu mengecek barang-barangnya terlebih dahulu
dan mencatat pekerjaan rumahnya.
Saat
ini Rika tengah memasukkan buku-bukunya ke dalam tasnya dan bersiap pergi,
tetapi pandangannya teralih ketika melihat seorang namja masuk secara diam-diam
ke kelasnya. Itu adalah Kim Kibum. Namja itu memandangi Rika dengan tajam.
Rika
segera menggendong tasnya dan berjalan. Ia berjalan seolah-olah tidak ada
siapapun di sana. Keduanya sama-sama membisu hingga sebuah kata terlontar dari
mulut Kibum ketika Rika sudah melewatinya beberapa langkah. “Berhenti!”
Tiba-tiba
suasana menjadi semakin tegang....
“Kenapa
kau begitu membenciku? Kenapa kau mengolokku? Apa? Apa salahku padamu?” tuntut
Kibum merasa tidak terima dengan perlakuan yang ia terima dari gadis itu.
Rika
kembali melangkahkan kakinya. Mencoba menghindari keadaan seperti ini dengan
perasaan gundah. Sungguh ia tidak tenang.
Kibum
meraih tangan yeoja itu dan menariknya. Membuat mereka saling berhadapan dalam
jarak yang begitu dekat, membuat mata mereka saling bertatap. Mata Kibum
menatapnya tajam, membuat jantung Rika berdebar.
“Kenapa
kau selalu menghindar?” tanya Kibum lagi.
“Karena
aku tidak mau melihatmu. Dihadapanmu aku merasa menjadi gadis yang jahat. Jika
kau bertanya apa salahmu, maka jawabannya tidak ada. Dan jika kau bertanya
kenapa aku membencimu, jawabannya...” Rika berhenti bicara membuat Kibum
semakin penasaran.
“Apa
alasannya? Katakan padaku!”
“Tidak
tahu! Aku tidak tahu! Karena itu aku marah padamu. Karena kau membuatku bingung
Kibum-ssi. Aku hanya tidak suka
melihat penampilanmu. Rambut berwarna, memakai anting, menyukai warna pink,
suka bercermin dan bergaya. Karena itu aku mengatakan dirimu banci. Apa tidak
boleh aku membenci seseorang tanpa alasan? Kumohon jangan bertanya lagi!”
bentak Rika penuh dengan emosi. Ia benar-benar sedih sekarang.
Kibum
melepaskan genggaman tangannya. “Lalu aku harus bagaimana?” tanya Kibum putus
asa.
“Kau
tidak perlu melakukan apapun, karena aku sudah meyukai orang lain,” jawab Rika
membuat Kibum terbelalak. Rasanya jantungnya itu melompat-lompat dan hampir
terlepas. “Seseorang yang dewasa, pintar, baik, sopan dan tahu bagaimana cara membuatku
nyaman,” sambung Rika.
“Jinki-hyung?
Maksudmu Lee Jinki?” terka Kibum.
“Mianhae!”
“Kau
tidak boleh meyukainya! Aku akan berubah untukmu. Kumohon! Jangan menyukai
laki-laki selain aku, karena hanya kau yang aku sukai. Sama sepertimu yang
membenciku tanpa alasan, aku juga menyukai tanpa alasan.”
Kibum
pergi meninggalkan Rika sendirian di sana. Saat ini hatinya benar-benar sakit
hingga rasanya ia ingin menangis. Kini ia berlari menjauh dari tempat itu,
berharap tak ada satu pun orang yang melihat keadaannya yang begitu
menyedihkan.
______
At
19:00 Waktu Korea....
Jinki
sedang berada di depan komputernya seperti biasanya. Sedangkan Taemin memang
sedang sibuk mengerjakan PR matematika di kamar Hyungnya itu. Maklum, dia
memang tidak terlalu pandai dalam pelajaran yang satu itu, karenanya ia meminta
bantuan Hyung-nya untuk mengajarinya.
Sebuah
box chat terbuka, itu dari Rika. Salah, itu dari adiknya Risa. Gadis ABG itu
bertanya pada Jinki karena khawatir kakak satu-satunya itu belum juga pulang.
Pulang
terlambat tanpa memberi kabar bukanlah kebiasaan Rika. Karena itu Keluarga
Wibowo, keluarga Rika sangat khawatir. Terlebih lagi ponsel gadis itu tidak
bisa dihubungi serta Rika yang masih belum familiar tempat tinggal mereka
membuat mereka semakin cemas.
Jinki
sungguh tidak tahu. Harusnya jam segini sekolah sudah kosong. Ia cemas, karena
itu ia segera mematikan komputer di hadapannya.
“Taemin-ah! Bisakah kau membantuku?”
“Tidak
Hyung. Jangan sekarang! Aku masih
sibuk dengan ini,” tolak Taemin seraya menunjuk-nunjuk soal-soal di bukunya
yang belum terpecahkan jawabannya.
“Ini
mendesak. Nanti aku akan mengerjakannya, dan kau tinggal menyalinnya saja,”
rujuk Jinki yang sudah gelagapan.
Taemin
tersenyum puas. “OK. Mwo?”
“Bantu
aku mencari Rika-ya. Adiknya
memintaku membantu mencarinya. Dia bilang Rika-ya belum pulang dan ponselnya tidak bisa dihubungi,” jelas Jinki.
“Hyung! Harusnya kau katakan itu dari
tadi!” bentak Taemin. “Kajja!”
“Tunggu
dulu! Kita harus meminta bantuan yang lain. Kau menghubungi Jonghyun, Kibum dan
Minho! Sedangkan aku akan bersiap menyalakan motor dulu,” perintah Jinki cepat.
Taemin
mengangguk mantap dan Jinki segera menyambar jaket dan kunci motornya, kemudian
berlari menuju garasi.
Taemin
mulai menghubungi mereka satu persatu sambil sibuk memakai jaket dan turun
menyusul Hyung-nya. Semua yang Taemin hubungi memberikan tanggapan yang sama,
yaitu nada terkejut yang keluar dari mulut mereka dan terdengar seperti
pekikkan hingga Taemin harus sedikit menjauhkan ponselnya dari telinganya. Tapi
ada satu orang yang tidak memberi tanggapan apapun, dia adalah Kibum. Tentu
saja, namja itu tidak bisa dihubungi.
______
Sekitar
setengah jam kemudian mereka sudah berkumpul semua di gerbang sekolah. Mereka
datang dari segala penjuru arah dengan ekspresi yang sama, khawatir. Mereka
berdiri melingkar, hampir terlihat seperti musyawarah kilat.
Mereka
membagi tugas mereka, menyusuri setiap tempat yang mungkin atau tidak mugkin
Rika datangi. Semua bergerak cepat. Berpencar dan mencari ke setiap sudut
tempat yang mereka datangi. Tetapi hingga malam telah larut mereka belumjuga
menemukannya.
“Hyung, sepertinya Rika-ssi memang tidak
ada di sekolah,” ujar Taemin.
“Aku
setuju dengan Taemin,” Timpal Jonghyun yang sudah terlihat cukup lelah dan
berkeringat.
“Tapi
dimana lagi? Ibunya bilang dia tidak tahu tempat lain selain sekolah ini,”
bantah Jinki.
“Mungkin
saja di sekitar tempat ini, Hyung,”
saran Minho.
“Kita
coba saja, Hyung,” ujar Taemin
setuju.
Mereka
semua kembali mencari di sekitar sekolah tetapi sama-sama berakhir nihil.
Mereka begitu lelah karena mencari gadis itu hingga tengah malam, karenanya
mereka memilih untuk pulang dan mencarinya kembali besok.
Tetapi
ada seseorang yang tetap kukuh ingin tetapi berada di tempat itu meski telah
mencari berjam-jam lamanya. Namja itu adalah Lee Jinki. Ia mencari, terus saja
mencari. Mancari gadis itu dengan penuh kekhawatiran yang semakin bertambah di
setiap detiknya. Kakinya terus melangkah dan matanya memandang awas ke penjuru
arah.
Kaki
Jinki terus berjalan semakin jauh dan semakin jauh saja dari sekolah hingga ia
menghentikan langkahnya di sebuah tempat yang bahkan tidak pernah ia pikirkan
sebelumnya.
Di
sana namja itu melihat seorang yeoja
tengah duduk dan bersandar pada tiang halte. Ia menedang-nendang lantai dengan
ujung kakinya seraya menatap kosong.
Jinki
berlari menghampirinya dan berdiri tepat di hadapannya. Rika melihat sepasang
kaki di hadapannya karenanya ia segera mengangkat wajahnya untuk melihat
seseorang di hadapannya. Ia melihat Jinki tengah berdiri tegap dengan
terengah-engah dan berkeringat di sekujur tubuhnya.
Rika
berdiri dan Jinki langsung memeluknya tanpa mengatakan apapun. Di telinganya ia
mendengar hembusan napas namja itu yang begitu berat dengan udara panas yang menyentuh
telinganya yang dingin, serta suhu panas yang berasal dari tubuh laki-laki yang
karena sejak tadi tidak berhenti berlari.
Jinki
melepas pelukannya. “Kau membuatku khawatir Rika-ya,” ujar Jinki lembut kemudian memeluk gadis itu kembali.
Rika
melepaskan pelukan Jinki. “Oppa, kamu
kenapa?” tanya Rika bingung.
“Kamu
yang kenapa?! Kami mencarimu semalaman tahu?!” bentak Jinki kesal. “Sebenarnya
ada masalah apa?”
Rika
menggeleng. “Memang siapa saja yang mencariku?”
“Aku,
Taemin-ah, Minho-ah, Jonghyun-ya dan
tentunya keluargamu.”
“Kibum-ssi, tidak ikut mencariku?” tanya Rika
kecewa.
Jinki
meggeleng. “Ani. Dia tidak bisa
dihubungi,” jawab Jinki. Jinki melihat kekecewaan di wajah Rika. Karena itu ia
menjadi cemburu. “Sa-sa-sa......,”
Jinki gugup. Ia berusaha mengatakan sesuatu dalam keadaan yang bisa dikatakan
romantis.
“Mw,o Oppa?” tanya Rika bingung.
“Sa-saranghaeyo Rika-ya!” ungkap Jinki
tiba-tiba setelah mengumpulkan seluruh keberaniannya.
Seperti
ada hembusan angin lembut yang menghempas Rika. Ini terlalu mendadak. Bahkan
membuat gadis itu sulit berkata-kata. Entah kenapa bibirnya kaku, meski ia
begitu ingin membalas kata-kata itu. Ia merasa ada sesuatu yang menahannya.
Matanya terbelalak, begitu juga tubuhnya yang sulit untuk bergerak.
“Ma-maukah
kamu menjadi kekasihku?” tanya Jinki gugup dengan mata menatap Rika.
...................................
To be continued....
.....Semua
siswa tidak ada satu pun yang mengenali Ki Bum dengan penampilan barunya itu.
Selain itu wara siswi berdecak kagum dengan puji-pujian yang terlontar dari
mulut mereka ketika Ki Bum berjalan melewati mereka.
...................................
Begitu
juga Rika, gadis yang Ki Bum suka. Ia terlihat sangat terkejut. Gadis itu
terpaku. Ia memandangi Ki Bum yang sekarang mendatanginya.
______
......Bahkan
saat ini Pemuda itu memandang dua buah tangan tengah bertaut.
Rika
: “Oppa!”
Jin
Ki :
“Dia kekasihku sekarang. Jadi tolong jangan ganggu dia lagi!”
______
Rika :
“A-aku, aku minta maaf, Ki Bum-ssi.”
Kibum
: “......Kau harus menjadi milikku
Rika-ssi.”
.....
Rika saat itu masih saja mematung tidak bergerak...... pingsan di lantai dengan
tiba-tiba.
______
Jinki : “Kamu diam saja, Min Ho-ah! Aku punya urusan yang harus
kuselesaikan dengannya sekarang.”
Minho : “Tapi...”
Kibum
: “Biarkan dia Min Ho-ya!”
______
Jungeun : “ Sebenarnya tadi terjadi perkelahian
antara Ki Bum dan Jin Ki....”
Rika _ : “Lalu apa yang terjadi?”
Jungeun : “....Di katakan mereka berdua
memperebutkanmu. Dan bahkan ada yang bilang kau tidak masuk karena kau dihamili
Ki Bum.”
Rika : “Mwo?!.....”
______

Tidak ada komentar:
Posting Komentar