Tittle : Dazzling Girl ( Chapter IV)
Author : Lee Hana
Main cast : Kim Ki Bum, Rika ( Imaginary Cast ), Lee Jin Ki
Support Cast : Lee Tae Min, Kim Jong Hyun, Choi Min Ho dan Shin Jung Eun.
Genre :
Romance and Friendship
Length : Sequel
Rating : PG-13
.......................
“Ma-maukah
kamu menjadi kekasihku?” tanya Jinki gugup dengan mata menatap Rika.
Pandangan
Rika berubah sendu. Entah kenapa ia sedih. “A-aku... aku....” Rika berpikir dan
Jinki memandang penuh harap. “Aku tidak tahu. Bisakah Oppa menunggu jawabanku?”
Jinki
terasa terhempas. Ia merasa sangat lemas, benar-benar lemas. “Wae? Apa kau menyukai namja lain? Jadi
kau tidak menyukaiku?” tanya Jinki kecewa.
“Aniyo!” sergah Rika cepat. “Tidak
begitu. Aku hanya bingung saja. Kalau begitu tolong yakinkan aku Oppa! Yakinkan
aku bahwa aku benar-benar menyukaimu, Jinki Oppa!”
Jinki
terlihat berpikir sebentar kemudian memandang gadis di hadapannya dengan
pandangan serius. Setelah beberapa lama berpikir pada akhirnya namja itu
memberanikan dirinya untuk mendekatkan tubuhnya, membuat jantungnya
melompat-lompat tak tentu. Rasanya Jinki begitu gugup. Benar-benar gugup bahkan
membuat napasnya tertahan di paru-parunya.
Jinki
melangkahkan kakinya perlahan. Satu, dua, tiga langkah hingga jarak di antara
mereka hanya sekitar lima senti meter. Kemudian ia mulai menggandeng tangan
Rika, menautkan jari-jarinya pada jari-jari Rika dan menggenggamnya dengan
erat. Tidak sampai di situ saja, Jinki pun mulai memberanikan dirinya untuk
mendekatkan wajahnya pada wajah gadis itu yang sudah tidak dapat bergerak lagi
karena rasa gugupnya yang teramat sangat.
Dari
jarak yang beberapa puluh senti menjadi beberapa mili saja. Sungguh Jinki
begitu gugup, begitu juga Rika. Wajah Rika sudah panas. Warna merah telah
memenuhi wajahnya, bahkan bibirnya pun tidak lagi bisa bergerak.
Tidak.
Itu tidak terjadi, di saat bibir mereka hampir menempel Jinki mulai menjauhkan
wajahnya kembali, meskipun kakinya masih belum beranjak. “Apa kau berdebar?”
tanya Jinki tiba-tiba.
Rika
mengangguk pelan kemudian tersenyum tipis. Gadis itu memeluk Jinki. “Saranghaeyo, Oppa,” ujarnya bahagia.
Jinki
membalas pelukan Rika. “Aku juga.” Mereka berpelukkan untuk beberapa saat
kemudian saling menjauh dengan wajah bahagia dari keduanya. “Apa kita sudah sah
menjadi sepasang kekasih?”
“Ne Oppa.”
______
Jinki
menaiki sebuah motor dengan seorang gadis di belakangnya. Kali ini Rika tidak
lagi menjaga jarak ataupun hanya memegang jaket Jinki untuk berpegangan, tetapi
benar-benar melingkarkan tangannya pada pinggang kekasihnya dengan erat.
Sepanjang jalan menuju sekolah gadis itu tersenyum bahagia, begitu pun Jinki.
Rika menyandarkan kepalanya pada punggung namja yang begitu ia sayangi.
Pada
hari-hari biasa yang ia gonceng adalah adik laki-lakinya, Taemin. Hanya karena
hari ini adalah hari jadi mereka yang pertama, karena itu Jinki rela memohon
pada Taemin untuk memakai motor mereka. Untungnya Taemin adalah anak yang
pengertian, meski pun sedikit kesal karena harus berdesak-desakkan menaiki bus
untuk pergi ke sekolah.
Bahkan
sesampainya di sekolah mereka tidak segera berpisah untuk pergi ke kelas
masing-masing. Jinki lebih dahulu mengantar Rika hingga gadis itu benar-benar
masuk ke kelasnya, barulah setelah itu ia pergi menuju kelasnya sendiri.
______
Seorang
namja memasuki gerbang sekolahnya dengan penampilan yang sungguh sangat
berbeda. Seperti janjinya, ia berubah sekarang. Kini ia terlihat so manly.
Rambut
cokelat yang menutupi lehernya ia potong rapi hingga seluruh lehernya terbuka.
Poni yang hampir menutupi sebelah matanya kini sedikit dipotong untuk
memperlihatkan matanya yang tajam itu serta alisnya yang tebal. Anting-anting
di telinganya pun sudah ia buang jauh-jauh. Lebih dari itu, sekarang barang
yang ia bawa rata-rata berwarna gelap seperti warna hitam bukan lagi merah
muda.
Kibum
berjalan dengan cara berjalannya seperti biasanya, dengan senyum merekah. Semua
siswa tidak ada satu pun yang mengenali Kibum dengan penampilan barunya itu.
Selain itu para siswi berdecak kagum dengan puji-pujian yang terlontar dari
mulut mereka ketika Kibum berjalan melewati mereka.
Sampailah
kibum di kelasnya. Di sana semua siswa memandang Kibum dengan raut terkejut,
kagum, dan tidak percaya. Sekarang Kibum terlihat jauh dan jauh lebih tampan
dari sebelumnya.
Begitu
juga Rika, gadis yang Kibum suka. Ia terlihat sangat terkejut. Gadis itu
terpaku. Ia memandangi Kibum yang sekarang mendatanginya.
Kini
Kibum telah berdiri di hadapan yeoja itu. Ia tersenyum manis membuat Rika
terpesona untuk beberapa saat sebelum pada akhirnya gadis itu tersadar. Rika
menunduk. Ia tidak berani memandang wajah Kibum. Bukan karena ia takut terpikat
oleh ketampanan Kibum yang sudah menjadi berkali-kali lipat, tetapi merasa
bersalah dan takut.
Di
saat seperti itu seorang Seongsaengnim masuk. Membuat semua siswa segera duduk
di kursi masing-masing, termasuk Kim Kibum. Mereka memulai kegiatan belajar
mengajar.
______
Bel
istirahat telah berbunyi dan semua siswa bergegas pergi menuju kantin atau
tempat lain hanya sekedar menghilangkan lelah atau pun mengisi perut mereka.
Begitu juga Rika, ia segera beranjak menuju luar kelas, tetapi sebuah tangan
mengenggam tangannya secara tiba-tiba dan menghentikan langkahnya.
Rika
segera membalikkan tubuhnya untuk melihat seseorang yang tengah berdiri di
belakangnya. “Ki- Kibum-ssi?” ujar
Rika terbata.
“Kita
ke kantin bersama ya?” ajak Kibum seraya menunjukkan senyum termanis yang ia
miliki. Berusaha meluluhkan hati gadis di hadapannya.
Saat
ini Minho lebih dahulu pergi ke kantin meninggalkan Kibum karena ia tahu
perasaan Kibum. Minho teman yang baik, karenanya ia mengerti keinginan
sahabatnya itu untuk mengajak Rika. Sedangkan Rika sendiri kini dalam keadaan
bermusuhan dengan Jungeun.
Seseorang
tiba-tiba masuk ke dalam kelas yang kini hanya tersisa dua orang di dalamnya,
yaitu Kibum dan Rika. Bahkan saat ini Namja itu memandang dua buah tangan
tengah bertaut.
Rika
segera melepaskan tangannya dari genggaman Kibum. “ Oppa!”
Jinki
menghampiri mereka dan berdiri tepat di samping kekasihnya itu. Ia menggandeng
tangan Rika dengan erat. “Dia kekasihku sekarang. Jadi tolong jangan ganggu dia
lagi!” ujar Kibum kemudian menarik Rika untuk menjauh.
Sedangkan
gadis itu melihat Kibum sedih, dan Kibum pun menatap ke arah mereka berdua
dengan begitu terkejutnya. Rasanya paru-parunya sudah tidak bekerja lagi dengan
normal karena ia merasa sangat sesak dan sakit di dadanya. Kibum rasanya ingin
terjatuh saat itu juga. Semua ini benar-benar membuatnya marah sekali.
Kibum
merasa dipermainkan. Ia sekarang bahkan merasa dirinya itu bagaikan sampah yang
tidak ada harganya, hingga membuat gadis itu mudah sekali menginjak-injak harga
dirinya. Baginya ini sangat menyakitkan. Ia bahkan belum pernah diperlakukan
seperti ini sebelumnya. Karena itu Kibum bertekad membuat Rika menebus perasaan
sakit itu.
______
Tidak
seperti biasanya Rika yang meninggalkan kelasnya paling terkahir kini pergi
lebih awal. Rika benar-benar takut jika ia kembali bertemu dengan Kibum seperti
kemarin. Tetapi itu tidak ada gunanya ketika Kibum tiba-tiba datang dari arah
berlawanan dan menyeretnya kembali ke kelas itu dengan cepat.
Sesampainya
mereka di kelas, Kibum segera menutup pintu kelas dan mendekatkan dirinya pada
Rika. Rika begitu ketakutan melihat tatapan Kibum yang begitu tajam dan penuh
dengan amarah.
Gadis
itu melangkah mundur ketika Kibum melangkah ke arahnya. Tetapi Kibum segera
memegang kedua bahu gadis itu hingga menghentikan langkah gadis itu agar tidak
dapat menjauh lagi. Mereka saling bertatap, dan Rika semakin ketakutan.
“Kenapa
kau mempermainkanku? Bukankah aku sudah katakan untuk mengungguku? Kenapa kau
tidak mau mengungguku sebentar saja?!” bentak Kibum hilang kendali dengan mata
yang terbuka lebar hingga membuatnya terlihat begitu mengerikan.
“A-aku,
aku minta maaf Kibum-ssi,” ujar Rika
lirih.
“Bukankah
aku sudah memohon? Kenapa kau tidak mau mendengarkan aku? Apa menurutmu aku itu
bodoh? Atau idiot? Apa bagimu perasaanku ini palsu?”
Kini
Rika tidak dapat berkata-kata lagi. Ia tahu ia salah, karenanya ia tidak
membatah dan diam saja dengan mata berkaca-kaca karena rasa sedihnya.
“Kau
harus menjadi milikku Rika-ssi,” ujar
Kibum kemudian segera melayangkan ciuman ke bibir Rika yang tipis dan halus itu
dengan cepat. Tidak membiarkan gadis itu menolak ataupun menghindarinya.
Tubuh
Rika begitu kaku hingga benar-benar tidak dapat bergerak maupun bergeser satu
inci pun. Kini ia merasa seperti boneka. Membiarkan Kibum menjajah bibirnya
sesuka hatinya tanpa perlawanan. Tetapi hati Rika saat ini pun tidak menentu.
Jantungnya yang sangat cepat berdegup membuatnya tidak bisa berbuat apa-apa.
Bahkan paru-parunya sudah tidak dapat bekerja dengan normal.
Kibum
terus saja menciumi bibir gadis itu. Menjadikan gadis yang ia cintai sebagai
tempat memuaskan nafsu serta amarahnya tanpa ia sadari. Ia terus melakukannya
sebelum seseorang tiba-tiba saja masuk dan menarik Kibum menjauh dari Rika. Namja itu segera meninju
wajah Kibum dengan kuat hingga jatuh tersungkur di lantai kelas. Sedangkan Rika
saat itu masih saja mematung tidak bergerak. Ia menangis tanpa suara sejak
Kibum menciumnya, kemudian pingsan di lantai dengan tiba-tiba.
Kedua
namja itu sontak menghampiri Rika. Kibum dan Jinki begitu panik. Tetapi Jinki
tidak mau membiarkan Kibum menyentuh gadisnya sedikit pun, kemudian membawa
Rika pergi dengan mengangkat tubuh yang sudah begitu lemah itu.
Kibum
menjatuhkan dirinya ke lantai. Ia terduduk dengan perasaan menyesal yang begitu
dalam. Hatinya bahkan jauh lebih sakit sekarang. Harusnya ia tidak melakukan
hal bodoh seperti itu. “Babo choreom!” rutuknya pada diri sendiri.
Jinki
segera meminta bantuan temannya yang ia temui di sekolah itu tanpa sengaja.
Kebetulan gadis itu memiliki mobil untuk mengantar Rika ke rumah sakit.
Sepanjang
perjalanan Jinki begitu khawatir. Wajah Rika begitu pucat dan tangan gadis yang
kini ia genggampun terasa sangat dingin di tangannya. Jinki menangis. Air
matanya membasahi pipi Rika dengan kepala Rika yang ia sandarkan pada pahanya.
Ia merasa tidak berguna karena tidak bisa melindungi orang yang ia sayangi.
______
Rika
membuka matanya di hadapannya ada seorang wanita yang dengan setia menunggunya
siuman. Itu adalah Ibu Rika. Dia begitu khawatir pada anaknya, sama seperti adik,
ayahnya serta Jinki.
“Mama!”
panggil Rika pelan.
“Rika!”
panggil Bu Indah semangat ketika melihat anaknya telah sadar.
Semua
orang yang berada di sana pun segera menghampiri Rika.
“Kamu
tidak apa-apa nak?” tanya Bu Indah khawatir.
“Aku
baik-baik saja Ma.”
“Sebenarnya
apa yang terjadi?” tanya Pak Wibowo.
Rika
kembali teringat apa yang telah membuatnya seperti ini, karena itu ia mulai
menangis. “Aku takut Pa,” ujar Rika di sela tangisnya.
“Ada
apa?” tanya Ibu Indah semakin khawatir.
Tetapi
Rika hanya menggeleng. Ia tidak mau menceritakan apa yang baru saja menimpanya.
Ia begitu malu mengatakannya pada keluarganya. Sama seperti Jinki, ia juga
tidak berani mengatakannya karena ia tahu itu bukan haknya. Karena itu, ketika
Pak Wibowo bertanya padanya, Jinki hanya bisa menjawab tidak tahu.
Melihat Rika yang seperti itu membuat hati
Jinki sakit. Rasanya ia benar-benar marah pada Kibum.
______
Pagi
ini Jinki segera mendatangi kelas Rika. Bukan karena mencari Rika. Hari ini
yeoja itu tidak masuk sekolah karena sakit. Ia memang sangat marah saat ini.
Sejak kejadian itu Jinki memang sudah menahan diri untuk melampiaskan
kemarahannya pada Kibum yang sekarang sudah tidak bisa ia tahan lagi.
Jinki
memasuki kelas itu dan menghampiri Kibum, kemudian begitu saja mencengkeram
kerah seragam Kibum dengan kencang. “Ikut aku!” ujar Jinki marah.
“Yah! Ada apa?” tanya Minho seraya
menahan tangan Jinki dengan menggengam pergelangan tangan Jinki.
“Kamu
diam saja, Minho-ah! Aku punya urusan
yang harus kuselesaikan dengannya sekarang,” bentak Jinki.
“Tapi....”
“Biarkan
dia Minho-ya!” perintah Kibum.
Akhirnya
Kibum di seret paksa oleh Jinki menuju pekarang belakang sekolah. Sedangkan
Minho segera menelepon teman-teman yang lain untuk mencegah sesuatu yang buruk
terjadi.
Beberapa
menit kemudian Jinki segera melayangkan tinjunya kembali setelah kemarin
melakukan hal yang sama di kelas. Kibum kembali terjatuh. Cairan merah segar
mengalir dari sudut bibirnya. Tetapi ia tidak terlihat marah. Ia hanya
mengusapnya dengan punggung tangannya.
Setelah
itu Jinki kembali mencengkeram kerah seragam Kibum hingga membuatnya berdiri di
hadapan Jinki. “Kau membuatnya sakit!” bentak Jinki hilang kendali.
Di
saat itu ketiga temannya telah datang dan segera melerai mereka. Jonghyun yang
merupakan sepupu Kibum segera memegangi Kibum yang terlihat lemah. Sedangkan
Taemin dan Minho menahan Jinki yang sudah memberontak untuk segara kembali
menghajar Kibum.
“Kau
kenapa Hyung?” tanya Taemin panik.
“Lepaskan
aku! Dia sudah membuat Rika-ya sakit!
Dia sudah membuatnya ketakutan dan sudah mencium gadisku seenaknya!” teriak
Jinki dengan penuh amarah.
Semua
yang mendengar terbelalak. Tetapi Minho dan Taemin tidak mengurangi kekuatan
mereka untuk tetap menahan Jinki.
Tiba-tiba
otot Jinki melemas dan duduk bersimpuh hingga pada akhirnya dua orang yang
berada di antaranya segera melepaskan genggaman mereka dari lengan Jinki. “Aku
melihatnya sendiri dengan mata kepalaku. Dia ketakutan. Laki-laki itu
menciumnya. Dia menangis dan pingsan di hadapanku. Ia bahkan begitu diam padaku
sekarang. Bagaimana aku bisa sabar? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Jinki
seraya meneteskan air matanya.
Minho
dan Taemin memeluk Jinki, sedangkan Jonghyun menatap Kibum tidak percaya. “Kau
laki-laki jahat Kibum-ah!” itu adalah
kata-kata yang Jonghyun sampaikan melalui tatapannya, kemudian mengikuti Taemin
dan Minho yang memegangi Jinki dengan kakinya yang lemas pergi dari tempat itu.
Kibum
yang kini duduk bersimpuh. Rasanya ini benar-benar neraka untuknya. Ia begitu
sedih melihat sahabat-sahabatnya membencinya seperti itu.
______
Seperti
rencana mereka. Setelah pulang sekolah mereka tidak segera pulang ke rumah
masing-masing. Mereka pergi ke rumah Rika untuk menjenguknya. Ini adalah salah
satu cara menunjukkan kepedulian mereka pada gadis itu. Mereka adalah Jinki,
Jonghyun, Taemin, Minho dan Jungeun. Gadis itu sudah melupakan amarahnya pada
Rika setelah mendengar apa yang sudah menimpanya lewat mulut Minho. Rasanya
gadis itu benar-benar sedih.
Seorang
wanita paruh baya memasuki sebuah kamar. Dilihatnya anaknya tengah berbaring
dengan posisi miring di atas ranjangnya.
Bu
Indah segera menghampiri anak perempuannya itu kemudian duduk di tepi kasur dan
memegang bahu gadis itu. “Rika!” panggilnya lembut.
Gadis
manis itu segera merubah posisi tidurnya menghadap sang ibu. “Iya Ma.”
“Teman-temanmu
datang untuk menjengukmu.”
“Siapa
Ma?”
“Empat
orang laki-laki dan seorang gadis. Tetapi kenapa laki-lakinya sebanyak itu dan
perempuannya hanya satu? Jangan-jangan teman-temanmu yang tampan itu
manyukaimu,” canda Bu Indah.
“Ah
Mama. Tapi siapa gadis itu? Apa itu Jungeun?”
“Mama
tidak tahu. Jadi bagaimana? Apa mereka semua boleh masuk?”
“Jangan
semua! Biarkan gadis itu yang masuk lebih dulu!”
Bu
Indah mengangguk kemudian segera keluar. Tidak lama kemudian Jungeun pun masuk
ke kamar Rika. Gadis itu melihat sahabatnya tengah menyandarkan punggungnya
pada bantal. Rika terlihat lemah dan pucat.
Jungeun
berjalan pelan menuju Rika dan berhenti tepat di samping kasur gadis itu.
“Duduklah!”
perintah Rika.
Jungeun
pun duduk diam di tepi kasur. Rika segera meraih tangan Jungeun yang tergeletak
di kasurnya dan menggenggamnya dengan tangannya yang lemas.
“Terima
kasih sudah mau menjengukku. Dan, maafkanaku! Aku benar-benar menyesal
mengatakan kata-kata yang membuatmu sakit hati.”
“Tiadak
apa-apa. Harusnya aku tahu Kibum memang bukan laki-laki yang baik, semua siswa
sekarang tahu itu. Lalu bagaimana keadaanmu?”
“Aku
baik-baik saja. Tetapi apa maksudnya semua siswa tahu dia jahat?”
“
Sebenarnya tadi terjadi perkelahian antara Kibum dan Jinki. Jinki tadi
mengampiri Kibum di kelas, dan ia terlihat sangat marah,” ujar Jungeun
menjelaskan.
“Lalu
apa yang terjadi?” tanya Rika penasaran.
“Aku
tidak tahu karena mereka kemudian pergi dari kelas. Tapi karena kejadian itu
banyak gosip tidak jelas beredar tentang kalian. Di katakan mereka berdua
memperebutkanmu. Dan bahkan ada yang bilang kau tidak masuk karena kau dihamili
Kibum.”
“Mwo?!
Kenapa bisa begini? Lalu bagaimana dengan Kibum sendiri?”
“Dia
terlihat tidak baik. Dia menjadi sangat murung dan pendiam. Bahkan mereka
sudah, maksudku Minho dan yang lainnya sudah menjauhi Kibum.”
“Kau
sendiri bagaimana? Apa kau tahu apa yang terjadi padaku sebenarnya?”
Jungeun
mengangguk. “Minho mengatakannya padaku kalau Kibum sudah....” Jungeun tidak
mau melanjutkan kata-katanya kemudian merunduk sedih.
“Sebenarnya
itu bukan salah Kibum. Ini murni kesalahku. Andai aku bersikap baik dan mau
mendengarkannya pasti tidak akan berakhir seperti ini,” ujar Rika dalam sesal
yang dalam. “Tolong kau jangan jauhi dia! Saat itu dia hanya sedang marah dan
tidak bisa mengendalikan emosinya. Aku benar-benar menyesal membuat Kibum
menderita seperti ini, padahal dia laki-laki yang baik.”
“Baiklah.”
“Sekarang
tolong panggilkan yang lainnya!”
Jungeun
menurut kemudian keluar. Beberapa menit kemudian kamar Rika pun menjadi sangat
ramai.
Sekitar
satu jam kemudian setelah mengobrol dan bercanda beberapa lama mereka pun
keluar. Tetapi mereka pergi tanpa Jinki dan menunggunya di luar. Saat itu Rika
memang hanya ingin bicara berdua saja dengan kekasihnya itu.
“Tolong
maafkan Kibum-ssi!”
“Mwo?!
Dia sudah memperlakukanmu seperti itu Rika-ya! Apa kau tidak marah?” tanya
Jinki heran.
“Ini
salahku Oppa. Dia sudah mengatakan bahwa ia menyukaiku, tetapi aku tidak mau
mendengarkannya dan tidak mau memberikannya kesempatan. Aku bahkan melukai
hatinya begitu dalam. Aku bersalah padanya Oppa,” ujar Rika berusaha memberikan
penjelasan.
“Sebaiknya
kita bicarakan itu lain waktu. Aku harus pulang sekarang. Yang lain sudah
menungguku di luar,” pamit Jinki kemudian pergi dengan perasaan kecewa.
______
Di
luar rumah Rika. Tepatnya di balik sebuah pohon berdiri seseorang dengan
menyadarkan tubuhnya pada pohon itu dengan wajah sedihnya yang sama sekali belum
berubah sejak kejadian tadi pagi di sekolah.
Kibum
menunggu di bawah pohon itu. Melihat para sahabatnya tengah menjenguk gadis
yang telah ia lukai. Bahkan ia sudah tidak tahu lagi apa mereka sama-sama
menganggapnya sahabat. Ia memang sengaja menyembunyikan diri agar tidak
ketahuan.
Setelah
menunggu sekitar satu jam lebih akhirnya ia melihat mereka keluar dan pergi
meninggalkan rumah itu. Tetapi Kibum pun tidak segera beranjak dari tempatnya.
Ia juga tidak berniat untuk menjenguk gadis itu. Ia terlalu malu untuk
melakukannya dan terlalu takut. Karenanya ia hanya melihat gadis itu melalui
kamarnya yang berada di lantai dua rumahnya. Meskipun yang ia lihat hanya
sebuah jendela kaca yang tertutup dengan tirai yang tidak mengizinkannya untuk
melihat isi kamar itu.
Kibum
berdiri dengan memasukkan kedua tangannya pada saku jaketnya. Ia merunduk
melihat kaki kananya menendang-nendang rumput di bawahnya. Di saat itu justru
Rika membuka jendelanya. Ia berniat untuk memberi kesempatan angin malam
memasuki setiap sudut kamarnya dan memberi sedikit udara dingin. Tetapi matanya
membulat ketika melihat sesosok namja yang berdiri diam dengan bodohnya.
Gadis
itu segera turun dan keluar dari rumahnya. Menghampiri namja itu dengan penuh
rasa bersalah. “Kibum-ssi!” panggil Rika dari jarak sepuluh meter dari Kibum.
To be continued....
______
Minho :
“Sebenarnya apa yang terjadi?”
Kibum :
“....Ini sungguh sudah sangat terlambat.”
Minho :
“Itu karena aku... itu karena...”
.......................
Kibum : “Kau menyukainya?”
______
Rika : “Apa hari minggu nanti ada waktu?”
Jonghyun : “Minggu?”
Rika : “Ne. Aku mau mengajakmu bermain
dan lunch. Jadi apa bisa?
______
Ayo!
Siapa yang tahu kelanjutannya? Apa mereka berantem? Tau berbaikan? Baca kelanjutannya
yang aku aja nggak tahu kapan postingnya lagi. Kemungkinan nggak sampe satu
minggu kok! Sabar ya kalo yang penasaran!
Note: R/R
PLEASE
BERI KOMENTAR AGAR AKU SEMANGAT BUAT MENULIS KELANJUTAN CERITANYA DAN AGAR AKU
CEPET POSTING JUGA! KOMENTARMU,
SEMANGATKU! CAYO!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar