Halaman

Selasa, 27 November 2012

Dazzling Girl ( Chapter II )





Tittle                : Dazzling Girl ( Chapter II )
      
Author             : Lee Hana

Main cast        : Kim Ki Bum, Rika ( Imaginary Cast ), Lee Jin Ki

Support Cast    : Lee Tae Min, Kim Jong Hyun, Choi Min Ho dan Shin Jung Eun.

Genre              : Romance

Length             : PG-13


.....................

“Ki Bum,” ujar Jin Ki setelah memutar tubuhnya dan mulai melangkah. Ia melihat Ki Bum tengah berdiri di sana. “Sedang apa?”

“Aku... aku sedang menunggu seseorang Kak,” jawab Ki Bum dengan raut wajah kecewa.

“Oh! Siapa? Apa gadis yang kamu sukai?” terka Jin Ki tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.

Ki Bum mengangguk lemas sambil menatap Rika.

“Oh ya! Kenalkan, ini Rika. Dia....”

“Dia temanku Kak. Dia murid baru di kelasku,” potong Ki Bum membuat Jin Ki mengangguk. Sedangkan Rika tidak berkomentar apa-apa.

“Kak, bisakah kita pulang sekarang? Ibu pasti akan khawatir jika aku pulang terlambat,” ajak Rika. Gadis itu dengan akrabnya menarik-narik lengan pemuda di sampingnya, membut Ki Bum terkejut.

“Baiklah. Aku pergi dulu ya!” pamit Jin Ki kemudian berjalan berdampingan dengan Rika, meninggalkan Ki Bum yang masih terguncang jiwanya.

Rika menolah ke belakang sesekali, melihat Ki Bum yang menurutnya terlihat tidak begitu baik. Berlalu dan menghilang bersama Jin Ki. Kini Ki Bum benar-benar sendirian.

“Kakak?” ujar Ki Bum seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Membuat hatinya serasa diremas. Sakit. “Apa mereka pacaran? Harusnya aku tidak memotong kata-kata Kak Jin Ki tadi,” gumam Ki Bum dalam sesal.


______

Rika memakai helm yang diberikan Jin Ki padanya, kemudian menaiki motor besar yang mesinnya sudah siap untuk melaju itu, bersama Jin Ki yang telah lengkap dengan helm dan jaketnya.

“Siap?” tanya Jin Ki.

“Siap,” jawab Rika. Tapi Jin Ki tidak segera melaju. Ia melihat ke arah perutnya. “Kenapa Kak?” tanya Rika heran.

“Kamu harus melingkarkan tanganmu di pinggangku! Nanti kamu bisa jatuh,” protes Jin Ki.

“Tidak apa-apa. Aku sudah biasa bergoncengan begini,” bantah Rika dengan tangan yang memegang jaket Jin Ki. Hanya Jaketnya. Ia bahkan duduk dengan memberi sedikit ruang diantara mereka. Atau mungkin lebih tepat jika dikatakan menjaga jarak.

“Merapatlah padaku!” perintah Jin Ki lagi.

Kali ini Rika sedikit memajukan tubuhnya, membuat Jin Ki menghela napas, karena ia tahu ia tidak bisa memaksa gadis itu.

Motor Jin Ki melaju. Kini mereka telah melewati gerbang sekolah, dan pada saat inilah Jin Ki mulai menaikkan kecepatan motornya secara drastis, membuat gadis manis itu benar-benar merapat padanya serta melingkarkan tangannya dengan begitu kuat, karena ia begitu takut terjatuh. Bahkan hingga Rika meneriaki nama Jin Ki berulang-ulang.

“Kak! Jangan mengebut! Aku takut!” teriak Rika.

“Tidak apa-apa. Bukankah kamu tidak boleh pulang terlambat? Aku berusaha mengantarmu sampai dengan cepat,” teriak Jin Ki beralasan. Ia tersenyum nakal.

Motor Jinki terus melaju, hingga melewati Ki Bum tanpa mereka sadari. Ki Bum tahu bahwa dua orang yang baru saja ia lihat adalah Rika dan Jin Ki. Melihat mereka berpelukkan seperti itu membuat Ki Bum semakin terpuruk. Ki Bum benar-benar kasihan.

______

Rika berjalan di sebuah lorong sepi. Tempat itu adalah sebuah gedung yang berisi ruang-ruang kosong, tempat khusus yang digunakan untuk acara ataupun kegiatan tertentu. Seperti ruang latihan atau tempat diadakannya ekstrakulikuler. Sedangkan di luar gedung tersebut juga terdapat lapangan luas yang digunakan untuk olahraga.

Apa ada yang tahu apa yang ingin Rika lakukan? Saat itu ia hanya sedang berjalan-jalan. Ia ingin tahu apa saja yang bisa ia temukan di sekolah barunya itu. Tapi memang ada sesuatu yang berbeda, sebuah suara dengan hentakkan cepat. Dan, memang....

Rika berjalan dengan langkah perlahan. Menikmati pemandangan di sekitarnya dengan sunyi yang mengiringi langkahnya. Awalnya ia hanya mendengar suara hentakkan sepatunya saja, namun semakin jauh berjalan ia mendengar suara lain. Itu sebuah lagu. Karenanya Rika mulai mengikuti sumber suara karena rasa penasaran yang menariknya.

Seseorang tengah menari dengan lincahnya, menggerakkan tubuhnya sesuai irama. Melenggak lenggok dengan tubuhnya yang lentur. Itu sungguh mengagumkan.

Hebat sekali,” gumam Rika menggunakan bahasa indonesia ketika tengah berdiri di depan pintu ruangan tersebut. Ia menghentikan kakinya di sana karena melihat seseorang menari dengan mempesona. Rika terpaku dan terpukau. Baginya ini adalah pemandangan yang jarang ia lihat.
                  
Pemuda itu menghentikan tariannya dan segera mengalihkan pandangan menuju gadis yang masih saja berdiri di depan pintu. Ia masih saja terpukau.

“Eh,” ujar Rika ketika menyadari pemuda itu tengah menatapinya heran.

“Tadi kamu bicara apa?” tanyanya penasaran mendengar kata-kata yang tidak ia mengerti itu.

“Apa?” tanya Rika terkejut, kemudian berpikir beberapa detik. “Oh! Hebat sekali. Itu artinya sangat hebat. Maaf, aku mengganggu ya?”

“Ah, tidak apa-apa.”

Disela perbincangan mereka sebuah reff dari lagu Hallo milik SHINee kembali berputar. Itu telepon dari Jin Ki.

“Kalau begitu aku pergi dulu. Selamat tinggal!” pamit Rika kemudian kembali berjalan seraya mengangkat teleponnya.

Beberapa menit berlalu hingga ia sampai di lapangan, tepatnya ia berjalan di tepi lapangan basket, dan saat itu Rika masih saja berjalan dengan ponsel yang menempel pada telinganya. Ia begitu ayik mengobrol hingga sesuatu datang ke arahnya dengan cepat tanpa menyadarinya.

“AWAAAAS!!!” teriak orang-orang itu kepada Rika. Itu adalah teriakan para anak basket, tentu tubuh Rika reflek segera menoleh ke arah sumber suara. Dan....
                    
“BUK! BRUK!”

Itu suara yang ditimbulkan ketika sebuah bola basket jatuh tepat mengenai kepalanya, dan seketika Rika pingsan dan jatuh di tempat.

Semua orang yang melihat segera menghampirinya. Tentu saja para pemain-pemain basket itu juga. Mereka semua melihat Rika yang terkapar tidak sadarkan diri, berkerumun hingga membuat kegaduhan.

Seseorang mengangkat tubuh Rika dan membawanya ke UKS ( Unit Kesehatan Sekolah ). Dia adalah ketua klub basket yang tidak sengaja membuat gadis di pelukannya pingsan dengan bola yang terlepas dari tangannya.

“Kak Jong!” panggil seseorang menghampiri Kim Jong Hyun. Ia melihat ke arah gadis yang kini ia gendong. “Dia kenapa Kak?”

“Dia pingsan terkena bolaku. Aku harus membawanya ke UKS.”

“Aku ikut denganmu.”

______

Sebuah suara terdengar, tapi itu bukan suara yang berasal dari MP3 player yang ia gunakan, melainkan suara yang timbul dari ponsel gadis di hadapannya. Gadis itu muncul secara tiba-tiba di sana. Karena itu Lee Tae Min menghentikan latihannya.

Gadis itu pamit kemudian mengangkat teleponnya setelah sempat berbincang-bincang sedikit dengannya. Ia berlalu.....

Mata Tae Min tiba-tiba saja melihat sesuatu yang berkilau tergeletak di lantai. Itu adalah sebuah gelang. Tapi rasanya ia tidak melihatnya tadi. Karena itu, kini Tae Min memungutnya. “Apa ini milik siswi tadi?” gumam Tae Min kemudian berlari mengejar Rika.

Di perjalanannya mencari Rika ia melihat seseorang yang ia kenal sedang mengangkat seorang siswi yang tengah pingsan, kemudian menghampirinya. Sungguh tidak di sangka itu adalah gadis yang ia cari sedari tadi. Karena itu, Tae Min memutuskan untuk ikut pergi ke UKS bersama Jong Hyun. Entah kenapa ia melakukan itu. Tae Min bahkan tidak memikirkannya.

______

“Kak, by the way yang kemarin terima kasih ya! Tapi lain kali tolong ja.....Krek-krek.... nuuut nuuut nuuut.”

“Rika! Rika! Rika!” panggilnya dengan nada pelan yang kemudian di akhiri dengan kepanikan. Jin Ki berlari menuju kelas Rika karena khawatir.

Setelah menaiki tangga menuju lantai dua, kini ia hampir sampai di tempat yang ia tuju. Tetapi ia malah menghentikan langkah kakinya di hadapan Ki Bum dan Min Ho yang baru saja keluar dari kelas mereka.

“Apa...apa Rika ada di kelas?” tanya Jin Ki di sela tarikan nafasnya yang terengah-engah.

“Tidak. Ada apa?” tanya Ki Bum.

Jin Ki tidak menjawab dan berusaha kembali menghubungi ponsel Rika. Dan beberapa saat kemudian terdengar suara seorang laki-laki menjawabnya.

“Ini siapa?” tanya Jin Ki semakin panik.

“Ini Kim Jong Hyun. Maafkan aku, tadi aku tidak sengaja membuat gadis ini pingsan terkena bolaku,” terang Jong Hyun.

“Apa?! Sekarang kalian dimana?” tanya Jin Ki semakin khawatir.

“Di UKS.”

Jin Ki segera memutus sambungannya dan mulai melangkahkan kakinya, tetapi Ki Bum buru-buru menahan laki-laki itu dengan meraih lenganya. “Apa yang terjadi dengan Rika?” tanya Ki Bum ikut khawatir.

“Dia pingsan terkena lemparan bola Jong Hyun.”

______

Saat ini kelima pemuda itu tengah melihat wajah Rika yang tengah tertidur lelap. Di sana terasa begitu sunyi hingga Rika mulai membuka matanya perlahan, dengan pandangan sedikit remang. Ia bangun seraya memegangi kepalanya yang sakit. Setelah benar-benar sadar, ia memandang bingung kelima pemuda tampan yang tengah mengelilinginya. Ia melihat mereka satu persatu, di mulai dari kanan kemudian ke kiri. Pertama ia melihat Kim Jong Hyun, Lee Tae Min, Choi Min Ho, Kim Ki Bum dan yang terakhir adalah Lee Jin Ki.

“Kamu sudah bangun?” tanya Jin Ki lega.

“Iya. Tapi... kenapa di sini ramai sekali?” tanya Rika heran pada Jin Ki. “Kamu siapa? Dan... bukankah kamu siswa yang menari itu kan?” tanya Rika pada Jong Hyun dan Tae Min.

Mendengar hal itu mata ketiga pemuda itu membulat. Mereka adalah Jong Hyun, Ki Bum dan Jin Ki, sedangkan Min Ho terlihat biasa saja. Apa kalian tahu kenapa mereka bereaksi seperti itu? Itu karena mereka tahu bahwa setiap gadis yang melihat Tae Min menari tidak akan bisa lepas dari pesona Tae Min. Mereka yakin kalau Rika sudah terpesona pada Tae Min.

Kim Jong Hyun memang tidak mengenal Rika. Tapi melihat gadis itu pingsan dengan wajah tenangnya membuat hatinya berdebar. Apalagi melihat gadis itu berada di tanganya, ia merasa semakin aneh. Jong Hyun merasakan perasaan yang aneh.

“Iya. Kenalkan! Aku Lee Taemin,” ujar Tae Min memperkenalkan diri.

“Hallo! Aku Kim Jong Hyun. Maaf sudah membuatmu seperti ini,” ujar Jong Hyun tidak mau kalah.

“Hallo! Aku Rika Wibowo. Tidak apa-apa. Emmm... tapi kenapa kalian semua di sini? Apa kalian sama-sama menungguku?” tanya Rika dengan heran.

Ya. Setelah mendengar kata-kata Rika para pemuda itu sadar bahwa mereka memiliki saingan untuk mendapatkan hati gadis di hadapan mereka. Khususnya Ki Bum, ia semakin tertekan sekarang.

Sekedar informasi. Mereka berlima adalah sahabat. Lee Tae Min adalah Adik Lee Jin Ki, sedangkan Kim Jong Hyun adalah kakak sepupu Kim Ki Bum. Ini memang terdengar dramatis, tapi rasa suka bisa muncul pada siapa saja kan?

“Rika!” panggil Jung Eun dengan suara yang cukup keras. Ia tiba-tiba masuk tanpa tahu ada siswa-siswa itu di sana. “Eh!”

Semua orang serentak menolah ke arah Jung Eun, membuat gadis itu sedikit malu. “Tapi kenapa mereka tampan semua, dan juga populer?” gumam Jung Eun dalam hati. Ia menjadi semakin malu melihat mereka semua memandanginya.

Jung Eun!” panggil Rika Riang. “Kemari!

Ya,” Jung Eun menghampiri Rika dan berdiri di samping Jin Ki, berdiri paling kiri. “Kamu tidak apa-apa? Maaf aku baru datang sekarang, aku baru saja dapat informasi kamu mengalami kecelakaan ini,” ujar Jung Eun sedikit merasa bersalah. “Apa kepalamu tidak apa-apa?”

Tidak apa-apa.”

“Tapi kenapa mereka semua ada di sini?” tanya Jung Eun heran dan Rika hanya menggeleng.

“Emmm... kalian bicara apa? Itu bahasa apa?” tanya Tae Min penasaran.

“Kami menggunakan bahasa Indonesia. Dia meminta maaf dan menanyakan kabarku. Oh ya, aku sampai lupa! Kenalkan, ini Shin Jung Eun! Dia sahabatku,” ujar Rika membuat Jung Eun merasa senang. “Ngomong-ngomong apa lagi yang ingin kalian lakukan di sini? Apa kalian tidak mengikuti pelajaran?”

Semua tersentak, termasuk Min Ho yang sejak tadi diam saja. Mereka baru saja menyadari hal bodoh yang ia lakukan sejak tadi. Mereka semua pamit kemudian keluar, tapi ada seorang pemuda yang masih enggan melangkahkan kakinya keluar. Pemuda itu adalah Ki Bum, sedangkan Rika dan Jung Eun memandanginya dengan heran.

“Maaf,” ujar Ki Bum seraya membungkuk.

Rika heran. Ia merasa Ki Bum tidak melakukan kesalahan padanya. “Kenapa minta maaf? Aku rasa kamu tidak melakukan kesalahan padaku.”

“Itu, kemarin. Aku rasa aku menyinggungmu di kantin saat itu.”

“Oh... aku tidak tersinggung, hanya kesal saja. Sebaiknya kamu kembali ke kelas sekarang!” usir Rika.
           
“Kenapa kesal?” tanya Ki Bum heran.

“Pokonya kesal. Aku tidak harus menyebutkan alasannya kan?” ujar Rika ketus.

“Ti-tidak. Maaf!” ujar Ki Bum kemudian benar-benar pergi.

“Rika, kenapa kamu begitu pada Ki Bum? Aku kasihan melihatnya. Dia kan baik padamu,” protes Jung Eun yang sedikit kesal dengan sikap sahabatnya yang kasar.

“Kenapa kamu membelanya? Aku hanya tidak suka padanya. Aku tidak suka sifatnya. Aku juga tidak suka penampilannya,” terang Rika sedikit kesal.

“Tapi sepertinya ia sedih setelah kamu mengatakan hal itu padanya. Kalau menurutku dia menyukaimu.”

“Apa?! Aku harap tidak.”

______

Ki Bum memasuki kelasnya. Di sana ternyata pelajaran sudah dimulai, dan untungnya guru yang mengajar adalah  Ibu guru Cheon. Ki Bum adalah murid kesayangannya karena Ki Bum paling pintar dalam pelajaran bahasa Inggris, dan Bu guru Cheon adalah guru bahasa inggris.

Ki Bum duduk denggan lemas di kursinya. Ia terlihat muram.

“Kamu kenapa?” tanya Min Ho.

“Tidak. Menurutmu Rika itu bagaimana?”

“Dia baik.”

“Begitukah? Entah kenapa aku merasa dia tidak menyukaiku Min Ho. Menurutmu apa yang salah denganku?” tanya Ki Bum bingung, dan Min Ho menjawabnya dengan gelengan.

Kembali pintu terbuka, kali ini Rika dan Jung Eun lah yang masuk. Dan saat ini Ki Bum kembali memandanginya. Ia mendesah.

Pelajaran dimulai. Semua murid mengerjakan tugas mereka masing-masing setelah Bu guru Cheon menjelaskan pelajaran. Tetapi seperti biasanya, Rika tidak butuh waktu lama mengerjakannya. Ia adalah siswa yang paling pertama menyelesaikan soal-soal tersebut, setelahnya baru Ki Bum.

Ini adalah kejadian langka. Biasanya Ki Bum lah yang biasa menyelesaikannya pertama kali. Selalu begitu sejak dulu. Dan ini membuat seisi  kelas terkejut dan kagum pada Rika, termasuk Bu guru Cheon dan Min Ho. Meskipun pada akhirnya Ki Bum lah yang mendapatkan nilai paling tinggi, nilai sempurna, setelah itu baru Rika.

“Wah! Ini nilai yang sangat baik,” puji Jung Eun.

“Aku kurang teliti,” ujar Rika dalam sesal kemudian melihat ke arah Ki Bum. Ki Bum membalas tatapan Rika, karenanya Rika membuang muka.

“Apa aku membuatnya kesal lagi?” tanya Ki Bum pada Min Ho yang sibuk melihat nilainya.

Min Ho melihat ke arah Ki Bum, kemudian mengalihkan pandangannya pada Rika, memperhatikannya beberapa saat dan kembali melihat Ki Bum. “Sepertinya... iya. Dia terlihat kesal. Tapi kenapa kau menanyakan hal itu? Sepertinya kamu begitu peduli padanya. Apa kamu menyukainya?” terka Min Ho menggebu-gebu.

“Iya. Tapi sepertinya dia benar-benar membenciku. Dia sangat ketus padaku. Apa karena aku yang terlalu pintar? Terlalu tampan? Terlalu keren? Terlalu populer?”

Min Ho menyipitkan matanya kemudian mendengus. “Kau mamu bertanya atau memuji diri sendiri?”

“Bertanya,” jawab Ki Bum santai.

______

Rika kembali berjalan menuju gerbang. Tetapi langkahnya terhenti ketika menyadari ada sesuatu yang hilang darinya. “Gelangku!” pekiknya seraya melihat pergelangan tangan kanannya membuat raut wajah Rika mendadak panik.

Ia mengobrak-abrik isi mejanya, membongkar isi tasnya, mengelilingi seisi kelas. “Tidak ada,” rengeknya dalam keputus asaan. “Aku benar-benar ingat tadi memakainya. Harusnya aku kecilkan lingkar gelangnya agar tidak mudah lepas dari tanganku.”

Rika berjalan menuju pintu dengan gusar, kemudian membukanya. Di hadapannya sekarang ada seseorang bertubuh tinggi tengah berdiri. Seseorang yang membuatnya terpesona beberapa saat karena tariannya yang mengagumkan. Ia terlihat terengah-engah. Dan mereka hampir saja bertabrakkan jika Rika masih melangkahkan kakinya tadi.

“Untunglah belum terlambat,” gumamnya dan Rika hanya memandanginya heran. “Ini! Ini aku temukan di depan pintu ruang latihan tari,” ujar Tae Min seraya menyodorkan gelang yang ada di tangannya.

Rika terbelalak, kemudian segera mengambil gelang itu dengan semangat. “Terima kasih banyak! Aku mencarinya kemana-mana,” ujarnya penuh syukur.

Rika mengantungkan gelangnya pada saku seragamnya.

“Tidak dipakai?”

“Tidak. Nanti dia terlepas lagi dari tanganku. Tapi kamu.....” Rika menghentikan kalimatnya ketika melihat peluh di pelipis Tae Min, kemudian mengambil saputangan dari sakunya. “Maaf hingga membuatmu keringatan begitu,” sambung Rika lagi seraya menyodorkan saputangannya itu.

Tae Min mengambilnya dan mengelap dahinya yang penuh dengan keringat, sedangkan Rika tersenyum tipis padanya membuat Tae Min sedikit malu. “Aku sampai lupa! Aku harus pergi sekarang. Jin Ki Hyung pasti menungguku,” pamit Tae Min.

“Aku juga ingin pulang. Kita ke luar sama-sama saja,” ajak Rika ramah.

______

Sebuah bus kembali melaju setelah berhenti beberapa saat menunggu seseorang yang belum juga beranjak dari tempatnya berdiri. Itu adalah bus yang biasa mengantarkan Ki Bum pulang. Tapi saat ini ia melewatkannya begitu saja. Ki Bum terlihat seperti menunggu seseorang, tetapi ia tidak menunggu, hanya berdiri dengan bingung. Ia menghentak-hentakkan salah satu ujung sepatunya pada lantai halte. Merunduk lesu.

Seseorang datang lalu menghampiri kertas yang terpajang di halte itu, membacanya dengan teliti kemudian barulah ia berdiri di samping Ki Bum dengan jarak sekitar satu meter. Gadis itu diam saja hingga Ki Bum menengok ke arahnya. Ki Bum terkejut dan segera membenarkan posisi berdirinya.

“Rika!”

 Rika menengok sebentar kemudian kembali melihat jalan. Gadis itu mengacuhkan Ki Bum.

“Apa salahku padamu? Apa kamu marah karena nilaiku lebih tinggi darimu?” tanya Ki Bum karena sikap Rika yang tidak bisa ia mengerti.

“Apa? Tidak! Meski sedikit iri. Kenapa kamu begitu peduli?” jawab Rika terbuka.

“Tentu saja. Kamu membuatku terus memikirkanmu dengan sikapmu yang begitu. Aku sungguh tidak bisa untuk tidak memikirkannya,” ujar Ki Bum terbuka. Ki Bum memang tipe orang yang ceplas-ceplos. Mengatakan apa saja yang ada di hatinya secara terang-terangan. Tetapi apa ini tidak terlalu terang-terangan?

“Jadi, kamu menyukaiku?” tanya Rika sedikit terkejut.

...........................

To be continued....
______

Jong Hyun    : “Ki Bum, sepertinya aku jatuh cinta.”

Ki Bum                       : “Aku juga... tapi dia bilang aku banci. Apa kau tahu apa artinya?”
______

Jong Hyun     : “Emmm...Tolong terima ini!”

Kim Jong Hyun memberikan cokelat pada Rika.

.......................

Rika              : “Terima kasih!”

......................

Ki Bum        : “Kak Jong, apa yang kau lakukan di sini?”
______

Rika              : “Kita mau apa di sini?”

Min Ho tersenyum manis kemudian kembali melangkah tanpa mengatakan apapun. Rika mengikutinya, memasuki pepohonan itu dan mengintip ke dalam semak-semak.

Mata Rika terbelalak. Ia menutup mulutnya, kemudian memandang Min Ho dengan tatapan tidak percaya.
______

Ki Bum         : “Kenapa kau begitu membenciku? Kenapa kau mengolokku? Apa? Apa salahku padamu?”

Rika              : “Tidak tahu! Aku tidak tahu! Karena itu aku marah padamu. Karena kau membuatku bingung Ki Bum....”

......................

Ki Bum         : “Kau tidak boleh meyukainya! Aku akan berubah untukmu........ Sama sepertimu yang membenciku tanpa alasan, aku juga menyukai tanpa alasan.”
______

Jin Ki berlari menghampirinya dan berdiri tepat di hadapannya.......

Rika berdiri dan Jin Ki langsung memeluknya tanpa mengatakan apapun.

Rika              : “Apa Kak?”

Jin Ki_           : “A-aku mencintaimu Rika!”

______

Tidak ada komentar:

Posting Komentar