Tittle : Dazzling Girl ( Chapter II )
Author : Lee Hana
Main cast : Kim Ki Bum, Rika ( Imaginary Cast ), Lee Jin Ki
Support Cast : Lee Tae Min, Kim Jong Hyun, Choi Min Ho dan Shin Jung Eun.
Genre :
Romance
Length : PG-13
.....................
“Ki
Bum,” ujar Jin Ki setelah memutar tubuhnya dan mulai melangkah. Ia melihat Ki
Bum tengah berdiri di sana. “Sedang apa?”
“Aku...
aku sedang menunggu seseorang Kak,” jawab Ki Bum dengan raut wajah kecewa.
“Oh!
Siapa? Apa gadis yang kamu sukai?” terka Jin Ki tanpa tahu apa yang terjadi
sebenarnya.
Ki
Bum mengangguk lemas sambil menatap Rika.
“Oh
ya! Kenalkan, ini Rika. Dia....”
“Dia
temanku Kak. Dia murid baru di kelasku,” potong Ki Bum membuat Jin Ki
mengangguk. Sedangkan Rika tidak berkomentar apa-apa.
“Kak,
bisakah kita pulang sekarang? Ibu pasti akan khawatir jika aku pulang
terlambat,” ajak Rika. Gadis itu dengan akrabnya menarik-narik lengan pemuda di
sampingnya, membut Ki Bum terkejut.
“Baiklah.
Aku pergi dulu ya!” pamit Jin Ki kemudian berjalan berdampingan dengan Rika, meninggalkan
Ki Bum yang masih terguncang jiwanya.
Rika
menolah ke belakang sesekali, melihat Ki Bum yang menurutnya terlihat tidak
begitu baik. Berlalu dan menghilang bersama Jin Ki. Kini Ki Bum benar-benar
sendirian.
“Kakak?”
ujar Ki Bum seakan tidak percaya dengan apa yang ia dengar. Membuat hatinya
serasa diremas. Sakit. “Apa mereka pacaran? Harusnya aku tidak memotong
kata-kata Kak Jin Ki tadi,” gumam Ki Bum dalam sesal.
______
Rika
memakai helm yang diberikan Jin Ki padanya, kemudian menaiki motor besar yang
mesinnya sudah siap untuk melaju itu, bersama Jin Ki yang telah lengkap dengan
helm dan jaketnya.
“Siap?”
tanya Jin Ki.
“Siap,”
jawab Rika. Tapi Jin Ki tidak segera melaju. Ia melihat ke arah perutnya.
“Kenapa Kak?” tanya Rika heran.
“Kamu
harus melingkarkan tanganmu di pinggangku! Nanti kamu bisa jatuh,” protes Jin
Ki.
“Tidak
apa-apa. Aku sudah biasa bergoncengan begini,” bantah Rika dengan tangan yang
memegang jaket Jin Ki. Hanya Jaketnya. Ia bahkan duduk dengan memberi sedikit
ruang diantara mereka. Atau mungkin lebih tepat jika dikatakan menjaga jarak.
“Merapatlah
padaku!” perintah Jin Ki lagi.
Kali
ini Rika sedikit memajukan tubuhnya, membuat Jin Ki menghela napas, karena ia
tahu ia tidak bisa memaksa gadis itu.
Motor
Jin Ki melaju. Kini mereka telah melewati gerbang sekolah, dan pada saat inilah
Jin Ki mulai menaikkan kecepatan motornya secara drastis, membuat gadis manis
itu benar-benar merapat padanya serta melingkarkan tangannya dengan begitu kuat,
karena ia begitu takut terjatuh. Bahkan hingga Rika meneriaki nama Jin Ki
berulang-ulang.
“Kak!
Jangan mengebut! Aku takut!” teriak Rika.
“Tidak
apa-apa. Bukankah kamu tidak boleh pulang terlambat? Aku berusaha mengantarmu
sampai dengan cepat,” teriak Jin Ki beralasan. Ia tersenyum nakal.
Motor
Jinki terus melaju, hingga melewati Ki Bum tanpa mereka sadari. Ki Bum tahu
bahwa dua orang yang baru saja ia lihat adalah Rika dan Jin Ki. Melihat mereka
berpelukkan seperti itu membuat Ki Bum semakin terpuruk. Ki Bum benar-benar
kasihan.
______
Rika
berjalan di sebuah lorong sepi. Tempat itu adalah sebuah gedung yang berisi
ruang-ruang kosong, tempat khusus yang digunakan untuk acara ataupun kegiatan
tertentu. Seperti ruang latihan atau tempat diadakannya ekstrakulikuler. Sedangkan
di luar gedung tersebut juga terdapat lapangan luas yang digunakan untuk
olahraga.
Apa
ada yang tahu apa yang ingin Rika lakukan? Saat itu ia hanya sedang
berjalan-jalan. Ia ingin tahu apa saja yang bisa ia temukan di sekolah barunya
itu. Tapi memang ada sesuatu yang berbeda, sebuah suara dengan hentakkan cepat.
Dan, memang....
Rika
berjalan dengan langkah perlahan. Menikmati pemandangan di sekitarnya dengan
sunyi yang mengiringi langkahnya. Awalnya ia hanya mendengar suara hentakkan
sepatunya saja, namun semakin jauh berjalan ia mendengar suara lain. Itu sebuah
lagu. Karenanya Rika mulai mengikuti sumber suara karena rasa penasaran yang
menariknya.
Seseorang
tengah menari dengan lincahnya, menggerakkan tubuhnya sesuai irama. Melenggak
lenggok dengan tubuhnya yang lentur. Itu sungguh mengagumkan.
“Hebat sekali,” gumam Rika menggunakan bahasa indonesia ketika tengah
berdiri di depan pintu ruangan tersebut. Ia menghentikan kakinya di sana karena
melihat seseorang menari dengan mempesona. Rika terpaku dan terpukau. Baginya
ini adalah pemandangan yang jarang ia lihat.
Pemuda
itu menghentikan tariannya dan segera mengalihkan pandangan menuju gadis yang
masih saja berdiri di depan pintu. Ia masih saja terpukau.
“Eh,”
ujar Rika ketika menyadari pemuda itu tengah menatapinya heran.
“Tadi
kamu bicara apa?” tanyanya penasaran mendengar kata-kata yang tidak ia mengerti
itu.
“Apa?”
tanya Rika terkejut, kemudian berpikir beberapa detik. “Oh! Hebat sekali. Itu artinya sangat hebat.
Maaf, aku mengganggu ya?”
“Ah,
tidak apa-apa.”
Disela
perbincangan mereka sebuah reff dari lagu Hallo milik SHINee kembali berputar.
Itu telepon dari Jin Ki.
“Kalau
begitu aku pergi dulu. Selamat tinggal!” pamit Rika kemudian kembali berjalan
seraya mengangkat teleponnya.
Beberapa
menit berlalu hingga ia sampai di lapangan, tepatnya ia berjalan di tepi
lapangan basket, dan saat itu Rika masih saja berjalan dengan ponsel yang
menempel pada telinganya. Ia begitu ayik mengobrol hingga sesuatu datang ke
arahnya dengan cepat tanpa menyadarinya.
“AWAAAAS!!!”
teriak orang-orang itu kepada Rika. Itu adalah teriakan para anak basket, tentu
tubuh Rika reflek segera menoleh ke arah sumber suara. Dan....
“BUK!
BRUK!”
Itu
suara yang ditimbulkan ketika sebuah bola basket jatuh tepat mengenai kepalanya,
dan seketika Rika pingsan dan jatuh di tempat.
Semua
orang yang melihat segera menghampirinya. Tentu saja para pemain-pemain basket
itu juga. Mereka semua melihat Rika yang terkapar tidak sadarkan diri,
berkerumun hingga membuat kegaduhan.
Seseorang
mengangkat tubuh Rika dan membawanya ke UKS ( Unit Kesehatan Sekolah ). Dia
adalah ketua klub basket yang tidak sengaja membuat gadis di pelukannya pingsan
dengan bola yang terlepas dari tangannya.
“Kak
Jong!” panggil seseorang menghampiri Kim Jong Hyun. Ia melihat ke arah gadis
yang kini ia gendong. “Dia kenapa Kak?”
“Dia
pingsan terkena bolaku. Aku harus membawanya ke UKS.”
“Aku
ikut denganmu.”
______
Sebuah
suara terdengar, tapi itu bukan suara yang berasal dari MP3 player yang ia
gunakan, melainkan suara yang timbul dari ponsel gadis di hadapannya. Gadis itu
muncul secara tiba-tiba di sana. Karena itu Lee Tae Min menghentikan
latihannya.
Gadis
itu pamit kemudian mengangkat teleponnya setelah sempat berbincang-bincang
sedikit dengannya. Ia berlalu.....
Mata
Tae Min tiba-tiba saja melihat sesuatu yang berkilau tergeletak di lantai. Itu
adalah sebuah gelang. Tapi rasanya ia tidak melihatnya tadi. Karena itu, kini Tae
Min memungutnya. “Apa ini milik siswi tadi?” gumam Tae Min kemudian berlari
mengejar Rika.
Di
perjalanannya mencari Rika ia melihat seseorang yang ia kenal sedang mengangkat
seorang siswi yang tengah pingsan, kemudian menghampirinya. Sungguh tidak di
sangka itu adalah gadis yang ia cari sedari tadi. Karena itu, Tae Min
memutuskan untuk ikut pergi ke UKS bersama Jong Hyun. Entah kenapa ia melakukan
itu. Tae Min bahkan tidak memikirkannya.
______
“Kak,
by the way yang kemarin terima kasih
ya! Tapi lain kali tolong ja.....Krek-krek.... nuuut nuuut nuuut.”
“Rika!
Rika! Rika!” panggilnya dengan nada pelan yang kemudian di akhiri dengan kepanikan.
Jin Ki berlari menuju kelas Rika karena khawatir.
Setelah
menaiki tangga menuju lantai dua, kini ia hampir sampai di tempat yang ia tuju.
Tetapi ia malah menghentikan langkah kakinya di hadapan Ki Bum dan Min Ho yang
baru saja keluar dari kelas mereka.
“Apa...apa
Rika ada di kelas?” tanya Jin Ki di sela tarikan nafasnya yang terengah-engah.
“Tidak.
Ada apa?” tanya Ki Bum.
Jin
Ki tidak menjawab dan berusaha kembali menghubungi ponsel Rika. Dan beberapa
saat kemudian terdengar suara seorang laki-laki menjawabnya.
“Ini
siapa?” tanya Jin Ki semakin panik.
“Ini
Kim Jong Hyun. Maafkan aku, tadi aku tidak sengaja membuat gadis ini pingsan
terkena bolaku,” terang Jong Hyun.
“Apa?!
Sekarang kalian dimana?” tanya Jin Ki semakin khawatir.
“Di
UKS.”
Jin
Ki segera memutus sambungannya dan mulai melangkahkan kakinya, tetapi Ki Bum
buru-buru menahan laki-laki itu dengan meraih lenganya. “Apa yang terjadi
dengan Rika?” tanya Ki Bum ikut khawatir.
“Dia
pingsan terkena lemparan bola Jong Hyun.”
______
Saat
ini kelima pemuda itu tengah melihat wajah Rika yang tengah tertidur lelap. Di
sana terasa begitu sunyi hingga Rika mulai membuka matanya perlahan, dengan
pandangan sedikit remang. Ia bangun seraya memegangi kepalanya yang sakit.
Setelah benar-benar sadar, ia memandang bingung kelima pemuda tampan yang
tengah mengelilinginya. Ia melihat mereka satu persatu, di mulai dari kanan
kemudian ke kiri. Pertama ia melihat Kim Jong Hyun, Lee Tae Min, Choi Min Ho,
Kim Ki Bum dan yang terakhir adalah Lee Jin Ki.
“Kamu
sudah bangun?” tanya Jin Ki lega.
“Iya.
Tapi... kenapa di sini ramai sekali?” tanya Rika heran pada Jin Ki. “Kamu
siapa? Dan... bukankah kamu siswa yang menari itu kan?” tanya Rika pada Jong
Hyun dan Tae Min.
Mendengar
hal itu mata ketiga pemuda itu membulat. Mereka adalah Jong Hyun, Ki Bum dan Jin
Ki, sedangkan Min Ho terlihat biasa saja. Apa kalian tahu kenapa mereka
bereaksi seperti itu? Itu karena mereka tahu bahwa setiap gadis yang melihat Tae
Min menari tidak akan bisa lepas dari pesona Tae Min. Mereka yakin kalau Rika
sudah terpesona pada Tae Min.
Kim
Jong Hyun memang tidak mengenal Rika. Tapi melihat gadis itu pingsan dengan
wajah tenangnya membuat hatinya berdebar. Apalagi melihat gadis itu berada di
tanganya, ia merasa semakin aneh. Jong Hyun merasakan perasaan yang aneh.
“Iya.
Kenalkan! Aku Lee Taemin,” ujar Tae Min memperkenalkan diri.
“Hallo!
Aku Kim Jong Hyun. Maaf sudah membuatmu seperti ini,” ujar Jong Hyun tidak mau
kalah.
“Hallo!
Aku Rika Wibowo. Tidak apa-apa. Emmm... tapi kenapa kalian semua di sini? Apa
kalian sama-sama menungguku?” tanya Rika dengan heran.
Ya.
Setelah mendengar kata-kata Rika para pemuda itu sadar bahwa mereka memiliki
saingan untuk mendapatkan hati gadis di hadapan mereka. Khususnya Ki Bum, ia
semakin tertekan sekarang.
Sekedar
informasi. Mereka berlima adalah sahabat. Lee Tae Min adalah Adik Lee Jin Ki,
sedangkan Kim Jong Hyun adalah kakak sepupu Kim Ki Bum. Ini memang terdengar
dramatis, tapi rasa suka bisa muncul pada siapa saja kan?
“Rika!”
panggil Jung Eun dengan suara yang cukup keras. Ia tiba-tiba masuk tanpa tahu
ada siswa-siswa itu di sana. “Eh!”
Semua
orang serentak menolah ke arah Jung Eun, membuat gadis itu sedikit malu. “Tapi
kenapa mereka tampan semua, dan juga populer?” gumam Jung Eun dalam hati. Ia
menjadi semakin malu melihat mereka semua memandanginya.
“Jung Eun!” panggil Rika Riang. “Kemari!”
“Ya,” Jung Eun menghampiri Rika dan
berdiri di samping Jin Ki, berdiri paling kiri. “Kamu tidak apa-apa? Maaf aku baru datang sekarang, aku baru saja dapat
informasi kamu mengalami kecelakaan ini,” ujar Jung Eun sedikit merasa
bersalah. “Apa kepalamu tidak apa-apa?”
“Tidak apa-apa.”
“Tapi kenapa mereka semua ada di
sini?” tanya Jung Eun heran dan Rika hanya menggeleng.
“Emmm...
kalian bicara apa? Itu bahasa apa?” tanya Tae Min penasaran.
“Kami
menggunakan bahasa Indonesia. Dia meminta maaf dan menanyakan kabarku. Oh ya,
aku sampai lupa! Kenalkan, ini Shin Jung Eun! Dia sahabatku,” ujar Rika membuat
Jung Eun merasa senang. “Ngomong-ngomong apa lagi yang ingin kalian lakukan di
sini? Apa kalian tidak mengikuti pelajaran?”
Semua
tersentak, termasuk Min Ho yang sejak tadi diam saja. Mereka baru saja
menyadari hal bodoh yang ia lakukan sejak tadi. Mereka semua pamit kemudian
keluar, tapi ada seorang pemuda yang masih enggan melangkahkan kakinya keluar. Pemuda
itu adalah Ki Bum, sedangkan Rika dan Jung Eun memandanginya dengan heran.
“Maaf,”
ujar Ki Bum seraya membungkuk.
Rika
heran. Ia merasa Ki Bum tidak melakukan kesalahan padanya. “Kenapa minta maaf?
Aku rasa kamu tidak melakukan kesalahan padaku.”
“Itu,
kemarin. Aku rasa aku menyinggungmu di kantin saat itu.”
“Oh...
aku tidak tersinggung, hanya kesal saja. Sebaiknya kamu kembali ke kelas
sekarang!” usir Rika.
“Kenapa
kesal?” tanya Ki Bum heran.
“Pokonya
kesal. Aku tidak harus menyebutkan alasannya kan?” ujar Rika ketus.
“Ti-tidak.
Maaf!” ujar Ki Bum kemudian benar-benar pergi.
“Rika,
kenapa kamu begitu pada Ki Bum? Aku kasihan melihatnya. Dia kan baik padamu,”
protes Jung Eun yang sedikit kesal dengan sikap sahabatnya yang kasar.
“Kenapa
kamu membelanya? Aku hanya tidak suka padanya. Aku tidak suka sifatnya. Aku
juga tidak suka penampilannya,” terang Rika sedikit kesal.
“Tapi
sepertinya ia sedih setelah kamu mengatakan hal itu padanya. Kalau menurutku
dia menyukaimu.”
“Apa?!
Aku harap tidak.”
______
Ki
Bum memasuki kelasnya. Di sana ternyata pelajaran sudah dimulai, dan untungnya
guru yang mengajar adalah Ibu guru Cheon.
Ki Bum adalah murid kesayangannya karena Ki Bum paling pintar dalam pelajaran
bahasa Inggris, dan Bu guru Cheon adalah guru bahasa inggris.
Ki
Bum duduk denggan lemas di kursinya. Ia terlihat muram.
“Kamu
kenapa?” tanya Min Ho.
“Tidak.
Menurutmu Rika itu bagaimana?”
“Dia
baik.”
“Begitukah?
Entah kenapa aku merasa dia tidak menyukaiku Min Ho. Menurutmu apa yang salah
denganku?” tanya Ki Bum bingung, dan Min Ho menjawabnya dengan gelengan.
Kembali
pintu terbuka, kali ini Rika dan Jung Eun lah yang masuk. Dan saat ini Ki Bum
kembali memandanginya. Ia mendesah.
Pelajaran
dimulai. Semua murid mengerjakan tugas mereka masing-masing setelah Bu guru
Cheon menjelaskan pelajaran. Tetapi seperti biasanya, Rika tidak butuh waktu
lama mengerjakannya. Ia adalah siswa yang paling pertama menyelesaikan
soal-soal tersebut, setelahnya baru Ki Bum.
Ini
adalah kejadian langka. Biasanya Ki Bum lah yang biasa menyelesaikannya pertama
kali. Selalu begitu sejak dulu. Dan ini membuat seisi kelas terkejut dan kagum pada Rika, termasuk
Bu guru Cheon dan Min Ho. Meskipun pada akhirnya Ki Bum lah yang mendapatkan
nilai paling tinggi, nilai sempurna, setelah itu baru Rika.
“Wah!
Ini nilai yang sangat baik,” puji Jung Eun.
“Aku
kurang teliti,” ujar Rika dalam sesal kemudian melihat ke arah Ki Bum. Ki Bum
membalas tatapan Rika, karenanya Rika membuang muka.
“Apa
aku membuatnya kesal lagi?” tanya Ki Bum pada Min Ho yang sibuk melihat
nilainya.
Min
Ho melihat ke arah Ki Bum, kemudian mengalihkan pandangannya pada Rika,
memperhatikannya beberapa saat dan kembali melihat Ki Bum. “Sepertinya... iya.
Dia terlihat kesal. Tapi kenapa kau menanyakan hal itu? Sepertinya kamu begitu
peduli padanya. Apa kamu menyukainya?” terka Min Ho menggebu-gebu.
“Iya. Tapi sepertinya dia benar-benar
membenciku. Dia sangat ketus padaku. Apa karena aku yang terlalu pintar?
Terlalu tampan? Terlalu keren? Terlalu populer?”
Min
Ho menyipitkan matanya kemudian mendengus. “Kau mamu bertanya atau memuji diri
sendiri?”
“Bertanya,”
jawab Ki Bum santai.
______
Rika
kembali berjalan menuju gerbang. Tetapi langkahnya terhenti ketika menyadari
ada sesuatu yang hilang darinya. “Gelangku!” pekiknya seraya melihat
pergelangan tangan kanannya membuat raut wajah Rika mendadak panik.
Ia
mengobrak-abrik isi mejanya, membongkar isi tasnya, mengelilingi seisi kelas.
“Tidak ada,” rengeknya dalam keputus asaan. “Aku benar-benar ingat tadi
memakainya. Harusnya aku kecilkan lingkar gelangnya agar tidak mudah lepas dari
tanganku.”
Rika
berjalan menuju pintu dengan gusar, kemudian membukanya. Di hadapannya sekarang
ada seseorang bertubuh tinggi tengah berdiri. Seseorang yang membuatnya
terpesona beberapa saat karena tariannya yang mengagumkan. Ia terlihat
terengah-engah. Dan mereka hampir saja bertabrakkan jika Rika masih
melangkahkan kakinya tadi.
“Untunglah
belum terlambat,” gumamnya dan Rika hanya memandanginya heran. “Ini! Ini aku
temukan di depan pintu ruang latihan tari,” ujar Tae Min seraya menyodorkan
gelang yang ada di tangannya.
Rika
terbelalak, kemudian segera mengambil gelang itu dengan semangat. “Terima kasih
banyak! Aku mencarinya kemana-mana,” ujarnya penuh syukur.
Rika
mengantungkan gelangnya pada saku seragamnya.
“Tidak
dipakai?”
“Tidak. Nanti dia terlepas lagi dari tanganku.
Tapi kamu.....” Rika menghentikan kalimatnya ketika melihat peluh di pelipis Tae
Min, kemudian mengambil saputangan dari sakunya. “Maaf hingga membuatmu
keringatan begitu,” sambung Rika lagi seraya menyodorkan saputangannya itu.
Tae
Min mengambilnya dan mengelap dahinya yang penuh dengan keringat, sedangkan
Rika tersenyum tipis padanya membuat Tae Min sedikit malu. “Aku sampai lupa!
Aku harus pergi sekarang. Jin Ki Hyung pasti menungguku,” pamit Tae Min.
“Aku
juga ingin pulang. Kita ke luar sama-sama saja,” ajak Rika ramah.
______
Sebuah
bus kembali melaju setelah berhenti beberapa saat menunggu seseorang yang belum
juga beranjak dari tempatnya berdiri. Itu adalah bus yang biasa mengantarkan Ki
Bum pulang. Tapi saat ini ia melewatkannya begitu saja. Ki Bum terlihat seperti
menunggu seseorang, tetapi ia tidak menunggu, hanya berdiri dengan bingung. Ia
menghentak-hentakkan salah satu ujung sepatunya pada lantai halte. Merunduk
lesu.
Seseorang
datang lalu menghampiri kertas yang terpajang di halte itu, membacanya dengan
teliti kemudian barulah ia berdiri di samping Ki Bum dengan jarak sekitar satu
meter. Gadis itu diam saja hingga Ki Bum menengok ke arahnya. Ki Bum terkejut
dan segera membenarkan posisi berdirinya.
“Rika!”
Rika menengok sebentar kemudian kembali
melihat jalan. Gadis itu mengacuhkan Ki Bum.
“Apa
salahku padamu? Apa kamu marah karena nilaiku lebih tinggi darimu?” tanya Ki
Bum karena sikap Rika yang tidak bisa ia mengerti.
“Apa?
Tidak! Meski sedikit iri. Kenapa kamu begitu peduli?” jawab Rika terbuka.
“Tentu
saja. Kamu membuatku terus memikirkanmu dengan sikapmu yang begitu. Aku sungguh
tidak bisa untuk tidak memikirkannya,” ujar Ki Bum terbuka. Ki Bum memang tipe
orang yang ceplas-ceplos. Mengatakan apa saja yang ada di hatinya secara
terang-terangan. Tetapi apa ini tidak terlalu terang-terangan?
“Jadi,
kamu menyukaiku?” tanya Rika sedikit terkejut.
...........................
To
be continued....
______
Jong
Hyun : “Ki Bum, sepertinya aku jatuh
cinta.”
Ki
Bum : “Aku juga...
tapi dia bilang aku banci. Apa kau
tahu apa artinya?”
______
Jong
Hyun : “Emmm...Tolong terima ini!”
Kim
Jong Hyun memberikan cokelat pada Rika.
.......................
Rika : “Terima kasih!”
......................
Ki
Bum : “Kak Jong, apa yang kau lakukan di sini?”
______
Rika : “Kita mau apa di sini?”
Min
Ho tersenyum manis kemudian kembali melangkah tanpa mengatakan apapun. Rika
mengikutinya, memasuki pepohonan itu dan mengintip ke dalam semak-semak.
Mata
Rika terbelalak. Ia menutup mulutnya, kemudian memandang Min Ho dengan tatapan
tidak percaya.
______
Ki Bum : “Kenapa kau begitu membenciku? Kenapa
kau mengolokku? Apa? Apa salahku padamu?”
Rika : “Tidak tahu! Aku tidak tahu!
Karena itu aku marah padamu. Karena kau membuatku bingung Ki Bum....”
......................
Ki
Bum : “Kau tidak boleh meyukainya!
Aku akan berubah untukmu........ Sama sepertimu yang membenciku tanpa alasan,
aku juga menyukai tanpa alasan.”
______
Jin
Ki berlari menghampirinya dan berdiri tepat di hadapannya.......
Rika
berdiri dan Jin Ki langsung memeluknya tanpa mengatakan apapun.
Rika : “Apa Kak?”
Jin
Ki_ :
“A-aku mencintaimu Rika!”
______

Tidak ada komentar:
Posting Komentar