Halaman

Senin, 26 November 2012

Dazzling Girl ( Chapter I )





Tittle                : Dazzling Girl ( Chapter I )
      
Author             : Lee Hana

Main cast        : Kim Ki Bum, Rika ( Imaginary Cast ), Lee Jin Ki

Support Cast    : Lee Tae Min, Kim Jong Hyun, Choi Min Ho dan Shin Jung Eun.

Genre              : Romance and Friendship

Length             : PG-13


Sorry dori Stroberry.... ff yang kemarin aku hapus. Coz, aku nggak dapet feelnya sih. Jadi aku ganti ini aja deh. Dijamin, ini lebih bagus. Langsung aku kasih dua chapter sekalian deh. Aku baik kan?

Happy Reading.....



Seperti pagi-pagi biasanya, di sekolah, sebelum pelajaran di mulai, semua kelas terdengar gaduh. Murid-murid bicara, tak terkecuali dengan dua murid yang bernama Kim Ki Bum dan Choi Min Ho, keduanya sedang asyik mengobrol tentang rap. Sesuatu yang jarang orang perbincangkan.

Semenit kemudian kelas menjadi hening, seorang  guru datang. Sebelum memulai pelajaran ia berbicara sedikit tentang anak baru yang ia katakan pindahan dari Indonesia. Sekitar lima menit kemudian pintu kembali terbuka, dan seorang gadis dengan gaya khasnya muncul.
         
                                                                  
 Gadis itu memiliki tubuh ideal dengan wajah asli Indonesia. Ia memakai seragam tetapi penampilannya cukup berbeda. Bagaimana tidak? Lihat saja! Rambut hitam bergelombangnya ia kuncir ke pinggir, menggantung indah hingga ke dada. Sedangkan leher yang biasa di hiasi dengan kalung justru ia lingkarkan headset. Bagian bawah ia kenakan legging hingga ke bawah lutut sebelum ia kenakan rok pendeknya. Melihat semakin ke bawah, terpasang sepatu sport hitam putih dengan kaus kaki sepanjang mata kaki. Sedangkan kulitnya sendiri berwarna kuning langsat sedikit kecoklatan. Semua itu membuatnya terlihat sangat berbeda dengan teman-temanya.

Ia berdiri di depan kelas dan tersenyum tipis. “Hallo! Saya siswi pindahan dari Indonesia. Salam kenal!” sapannya sopan dengan bahasa korea yang bisa dikatakan cukup bagus.

Rika memang baru pindah sekitar sepuluh hari, tapi sejak di Indonesia ia sudah membiasakan diri berbicara menggunakan bahasa korea dengan keluarganya, apalagi ia memiliki seorang teman chatting yang berasal dari negeri gingseng itu yang bersedia mengajarkannya. Sebenarnya ia sangat berat hati meninggalkan Indonesia, tetapi karena ini adalah tuntutan dari pekerjaan ayahnya yang merupakan seorang karyawan sebuah perusahaan, membuatnya terpaksa tinggal di negara tersebut untuk sementara waktu. Sementara waktu? Ya, Rika memang berencana akan kembali ke Indonesia meski tidak tahu kapan.

Setelah memperkenalkan diri ia berjalan menuju sebuah kursi kosong yang ditempati oleh seorang gadis bernama Shin Jung Eun. Sedangkan meja tepat di sebelah kirinya adalah meja yang ditempati dua siswa populer, dan di sebelah kanannya adalah tembok. Jung Eun duduk tepat di samping tembok, kemudian Rika di pinggir, tepat di samping kirinya ada Choi Min Ho, setelah itu barulah Kim Ki Bum.

Kim Ki Bum, siswa tampan dengan rambut cokelat berponi menyamping ternyata memperhatikannya sedari tadi. Memperhatikan Rika sejak ia menginjakkan kakinya di kelas tersebut. Ki Bum terus memandanginya bahkan setelah dia duduk. Sedangkan Choi Min Ho, seperti biasanya, ia begitu cuek.

Hallo! Aku Shin Jung Eun,” ujar Jung Eun menggunakan bahasa indonesia.

Kamu bisa bahasa indonesia?” tanya Rika terkejut.

Tentu saja, aku campuran Indonesia Korea.”

Aku Rika. Senang sekali bisa menggunakan bahasa indonesia denganmu Jung Eun. Aku kira aku tidak akan menggunakannya selain pada keluargaku.”

Hey, hey! Kim Ki Bum memandangimu,” ujar Jung Eun dengan mata melirik-lirik ke arah Ki Bum. Tentu Rika menjadi penasaran dan menoleh ke arah Ki Bum. Memandang Ki Bum dengan pandangan bingung, sedangkan Ki Bum buru-buru memalingkan wajahnya ke depan setelah menyadari Rika melihatnya. Ki Bum terlihat malu.

______

Rika duduk bersama dengan Jung Eun di kantin. Mereka membuka kotak bekal mereka. Jung eun membawa sandwich sedangkan Rika membawa salad yang kemudian ia taburkan saus kacang di atasnya, membuat Jung eun penasaran.

Itu apa?” tanya Jung eun penasaran.

Ini salad ala betawi, gado-gado!” jawab Rika bangga. “Mau coba! Dijamin enak,” sambungnya lagi seraya menyodorkan makanan itu ke hadapan Jung Eun. Rika memberikan sendoknya pada Jung Eun dan Jung Eun pun mencobanya. Ia mengunyahnya perlahan untuk memastikan rasa yang menyentuh lidahnya itu. “Bagaimana?” tanya Rika menggebu-gebu.

Jung Eun mengangguk mantap sambil mengunyah. “Enak.”

Kalau begitu ini kita makan berdua saja. Aku tidak akan habis sendirian. Mama menaruhnya sangat banyak,” ajak Rika.

Mereka memakan gado-gado itu berdua. Tanpa mereka sadari banyak siswa yang memeperhatikan mereka karena bahasa yang mereka gunakan, serta makanan yang mereka berdua santap dengan lahap membuat yang lain penasaran, begitu juga Ki Bum. Tapi sayang laki-laki jangkung yang berada di sebelahnya masih saja cuek. Karena itu Ki Bum harus sedikit membujuk dan menarik tangan Min Ho untuk menghampiri dua gadis keturunan Indonesia itu.

“Hallo!” sapa Ki Bum dan Min Ho serentak.

“Hallo!” balas keduanya.

“Makan apa?” tanya Ki Bum penasaran, dan baru di saat inilah rasa cuek Min Ho hilang dan melihat ke arah makanan di hadapan kedua gadis itu karena sama-sama penasaran.

“Salad,” jawab Rika pendek.

“Salad apa itu? Kenapa ada cairan kental berwarna cokelat? Apa itu saus?” tanya Min Ho yang biasanya diam itu.

“Ini saus kacang. Makanan ini namanya gado-gado, makanan khas Indonesia,” jawab Rika bangga.

“Apa kalian mau?” tanya Jung Eun menawarkan seraya mendorong kotak makanan itu ke arah dua laki-laki yang berdiri di samping Rika. Jung Eun melakukan itu untuk mendapatkan simpati Min Ho. Asal tahu saja, sebenarnya Jung Eun menyukai laki-laki itu secara diam-diam sejak setahun yang lalu. Min Ho memang sangat berkarisma, karena itu wajar saja jika banyak gadis yang mengejarnya, meski begitu Min Ho sendiri tidak menyadarinya. Ya kalian tahu sendiri alasannya, cuek.

“Ini enak. Boleh minta resepnya?” tanya Ki Bum terus terang dan Rika mengangguk pelan. “Kalau begitu aku minta nomer ponselmu, nanti aku akan misscall ke ponselmu, setelah itu kau bisa memberikan resepnya padaku lewat sms.”

“Tiba-tiba aku ingin ke kamar mandi. Kalau mau minta nomerku pada Jung Eun saja. Aku buru-buru. Oh iya! Kalau mau habiskan saja semua gado-gadonya, aku sudah kenyang,” ujar Rika kemudian meninggalkan mereka bertiga dengan kesalnya. Ia pergi sambil bersungut-sungut sendirian.

Min Ho dan Ki Bum saling bertatap beberapa saat, kemudian bersamaan menatap Jung Eun. “Eh, aku tidak punya,” ujar Jung Eun gugup kemudian segera pergi menjauh dengan membawa kotak bekalnya, tetapi ia malah melupakan kotak bekal Rika dan meninggalkannya. Sepertinya Jung Eun tidak tahan ditatapi Min Ho seperti itu.

“Apa aku menyinggungnya?” tanya Ki Bum pada Min Ho seraya memandangi Jung Eun yang tengah berlari kecil. Tapi Min Ho tidak menjawab, karena itu Key mengalihkan wajahnya untuk melihat Min Ho. Tapi, oh tidak! Kini sahabatnya itu tanpa ia sadari telah duduk rapi dan makan dengan begitu lahap, seperti orang yang belum makan berhari-hari. Ki Bum terkejut melihat Min Ho, tapi apa boleh buat, Min Ho memang sangat suka makan dan sepertinya ia memang sangat lapar. Ki Bum menatap sahabatnya itu dengan heran. “Apa kamu tidak makan sejak kemarin?” olok Ki Bum tetapi Min Ho mengangguk. Sepertinya Min Ho benar-benar menganggapnya sebagai pertanyaan.

______

Jung Eun masuk ke dalam kelas. Ia melihat Rika tengah mendengarkan musik dengan wajah kesal. Menempelkan headset-nya ke telinganya.

Rika melihat Jung Eun menghampirinya dengan sebuah kotak bekal di tangannya, tapi Rika tidak melihat kotak bekalnya. “Jung Eun, dimana kotak bekalku?” tanya Rika khawatir.

Jung Eun memukul keningnya kuat. “Aku lupa!” ujarnya dengan mata membulat. “Ma-maaf, aku tadi begitu gugup jadi aku lupa,” ujar Jung Eun merasa bersalah.

Rika terlihat sangat kesal sekarang. Ia seperti ingin mengerang, tapi beberapa detik kemudian ia malah mendesah. “Ya sudah, tidak apa-apa. Aku akan ambil sendiri.”

Rika segera berlari menuju kantin, tetapi sesampainya di sana tempat itu terlihat sepi. Sepertinya itu karena waktu istirahat yang hampir berakhir. Rika menghampiri meja yang tadi ia tempati. “Mana?” tanya Rika panik ketika melihat meja itu kosong melompong, karena itu ia segera memutar tubuhnya untuk kembali mencari. Tetapi......

Seseorang muncul dengan tiba-tiba di hadapan Rika. Laki-laki dengan tubuh tinggi dan atletisnya, yaitu Choi Min Ho. Rika tersentak karena terlalu terkejutya, bahkan ia hampir saja terjungkal ke belakang, tapi untungnya Min Ho segera menarik pinggangnya yang ramping dan menahannya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya memegang sebuah benda yang Rika cari dengan paniknya.

Mereka sesaat saling bertatap, kemudian Min Ho melepaskannya. “Ma-maaf,” ujar Rika terbata. Alis Min Ho bertaut, sepertinya ia tidak mengerti. Tentu saja, bahasa yang Rika gunakan adalah bahasa Indonesia. Rika yang menyadari kesalahannya segera memegang mulutnya dan mengulangi kata-katanya sekali lagi. “Maafkan aku.”

“Tidak apa-apa. Aku yang harusnya meminta maaf.Aku hampir membuatmu jatuh.”

Rika melihat ke arah benda yang Min Ho pegang seraya menunjuknya. “Itu, kotak bekalku!”

“Iya, tadi aku menghabiskan makananmu. Itu enak sekali. Terima kasih,” ujar Min Ho ramah seraya memberikan kotak bekal itu. “Itu sudah aku cuci,” sambungnya lagi

Rika tertegun sesaat. Ia merasa sangat senang mendengar kata-kata Min Ho, serta sikapnya yang menurutnya sangat berbeda dengan laki-laki yang sering bersama Min Ho itu.

Tiba-tiba bel bertanda masuk berbunyi, karena itu mereka segera berlari menuju kelas. Mereka berlari beberapa lama hingga tiba-tiba langkah Rika terhenti ketika melihat seseorang tengah berjalan melewatinya. “Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi dimana?” pikirnya lalu menengok ke belakang.

Lamunannya terhenti ketika Min Ho memanggilnya. “Rika! Ayo!” ujar Min Ho seraya mengangkat dan mengayun-ayunkan telapak tangannya, mengajaknya agar kembali berlari.

“Iya.”

Rika kembali berlari, dan di saat itu laki-laki di belakangnya barulah menengok ke arah Rika. Ia melihat gadis itu tengah berlari bersama Min Ho seraya berpikir.

Setelah beberapa lama berlari akhirnya mereka sampai. Masuk ke dalam kelas dengan kasar dan dengan nafas yang sama terengah-engah. Semua mata menatap ke arah mereka, begitu juga guru yang telah datang lebih dahulu dari mereka, karena itu mereka meminta maaf kemudian segera duduk.

“Kenapa kamu bisa datang bersama Min Ho?” tanya Jung Eun cemburu.

“Tadi dia memberikan kotak bekalku.”

Dan di saat yang sama Ki Bum juga bertanya pada Min Ho dengan cemburu. “Kenapa kalian bisa datang bersamaan?”

“Aku tadi mengembalikan kotak bekalnya lebih dahulu.”

______
                                                   
Sekarang sudah sore, waktunya para siswa untuk pulang. Tapi saat ini sekolah hampir sepi, hanya ada beberapa murid yang masih berada di dalam kelas atau pun tempat-tempat lain di gedung sekolah. Sama seperti Rika, ia baru saja menutup pintu kelas dan berniat untuk pulang.

Tiba-tiba sebuah alunan musik terdengar. Itu adalah ringtone Rika. Sebuah reff dari lagu berjudul Hallo dari album repackage dari SHINee.
                                                                                    
Rika melihat nama yang muncul di layar ponselnya, kemudian mengangkatnya. Ia mengobrol sambil berjalan menuju gerbang sekolah.

“Hallo!”

“Hallo!”

“Ada apa Kak? Kenapa tiba-tiba menelepon?”

“Tidak apa-apa. Tadi aku melihat seseorang yang mirip denganmu di jalan, karena itu aku jadi ingat padamu. Ngomong-ngomong sekarang kamu jarang sekali chatting.”

“Iya. Sejak beberapa minggu yang lalu aku dan keluargaku memang sibuk untuk  kepindahan kami sekeluarga ke Korea. Dan sekarang aku bahkan sudah tinggal di sini.”

“Serius?! Aku senang mendengarnya. Kalau begitu apa boleh aku bertemu denganmu?”

“Tentu saja. Aku juga ingin melihat Kakak secara langsung.”

“Sekarang sedang apa?”

“Sedang meneleponmu.”

“Jangan bercanda! Aku bertanya serius.”

“Aku sedang dalam perjalanan pulang. Aku baru saja selesai sekolah.”

“Benarkah?! Jadi kamu sekarang bersekolah dimana?”

“Aku sekarang bersekolah di......”

Rika berhenti bicara ketika melihat seseorang yang berdiri beberapa meter di hadapannya. Mereka sama-sama tengah menempelkan ponsel mereka di telinga masing-masing, kemudian menjauhkannya perlahan secara bersamaan, seraya memandangi apa yang berada di hadapan mereka dengan tatapan tidak percaya. Mereka berjalan perlahan. Saling mendekat dan saling bertatap beberapa saat.

“Rika!”

“Kak Jin Ki!”

“Kamu sekolah di sini?!”

“Iya. Ini hari pertamaku.”

“Kalau begitu aku ucapkan selamat datang!” ujar Jin Ki ceria.

“Terima kasih!” balas Rika tidak kalah ceria.

“Kamu ternyata jauh lebih cantik jika dilihat secara langsung,” puji Jin Ki membuat Rika sedikit malu.

“Kakak juga sangat tampan,” balas Rika yang sama-sama membuat Jin Ki malu.

“Bukankah kamu ingin pulang? Bagaimana jika aku antar? Aku bawa motor. Kebetulan adikku sedang ada latihan tari, jadi aku pulang sendirian,” tawar Jin Ki ramah.

“Tidak usah. Ayah akan menjemputku sebentar lagi,” tolak Rika halus.

“Baiklah kalau begitu.”

Tiba-tiba di sela obrolan mereka sebuah suara kembali terdengar. Itu adalah suara ringtone dari ponsel Rika.

“Dari Ayah,” ujar Rika memberitahu Jin Ki, dan Jin Ki mengangguk.

Rika memulai perbincangan dengan ayahnya. Perbincangan yang diawali dengan sebuah pekikkan serta raut wajah kecewa dari Rika. Setidaknya itu yang Jin Ki tangkap dari apa yang ia lihat dan dengar. Jin Ki tidak mengerti apa yang Rika katakan karena ia menggunakan bahasa indonesia, hingga pada akhirnya perbincangan itu ditutup dengan wajah muram Rika.

“Kenapa?” tanya Jin Ki penasaran.

“Ayah tidak bisa menjemput. Dia menyuruhku pulang menggunakan taksi,” jawab Rika lemas.

“Kamu bisa naik motorku, dan aku akan mengantarmu selamat sampai rumah,” tawar Jin Ki untuk kedua kalinya. Kali ini Rika mengangguk, membuat senyum merekah di wajah jinki.

“Baiklah kalau begitu. Ayo!” ajaknya semangat.

Mereka mulai berjalan menuju tempat parkir, tetapi baru satu langkah, mereka sudah berhenti. “Ki Bum,” ujar Jin Ki ketika melihat sesosok laki-laki tengah berdiri tidak jauh dari  mereka.

______

Kim Ki Bum kini sedang berdiri dengan bersandar pada gerbang sekolah. Rupanya ia sedang menunggu seseorang. Seorang gadis yang telah mengambil perhatiannya sejak Ki Bum pertama kali melihatnya. Gadis yang tidak lain adalah Rika.

Sejujurnya ia menunggu untuk meminta maaf pada Rika. Ia merasa sedikit merasa bersalah membuat Rika kesal, selain itu apa yang ia lakukan juga termasuk bagian dari rencana pendekatannya. Saat ini ia sekaligus ingin mengajaknya pulang bersama, atau hanya sekedar berjalan dan mengobrol bersama hingga halte bus. Tapi sekarang sudah lewat setengah jam.

Ki Bum melihat ke arah jam tangannya. “Kemana dia? Kenapa belum muncul?” tanya Ki Bum bingung dan mulai tidak sabar, karena itu ia segera berjalan menuju kelas.

Ki Bum terus berjalan hingga langkahnya terhenti ketika melihat sebuah pemandangan yang membuatnya cemburu. Ia melihat Jin Ki dan Rika tengah mengobrol dengan asyiknya. Mereka terlihat begitu dekat.

“Ki Bum,” ujar Jin Ki setelah memutar tubuhnya dan mulai melangkah. Ia melihat Ki Bum tengah berdiri di sana. “Sedang apa?”

“Aku... aku sedang menunggu seseorang Kak,” jawab Ki Bum dengan raut wajah kecewa.

“Oh! Siapa? Apa gadis yang kamu sukai?” terka Jin Ki tanpa tahu apa yang terjadi sebenarnya.

..................................

To Be Continued.....      
______

Rika         : “Hebat sekali.”
           
Pemuda itu menghentikan tariannya dan segera mengalihkan pandangan menuju gadis yang masih saja berdiri di depan pintu. Gadis itu masih saja terpukau.

______

Perbincangan di telepon :

Rika         : “Kak, by the way yang kemarin terima kasih ya! Tapi lain kali tolong ja.....Krek-krek.... nuuut nuuut nuuut.”

Jinki         : “Rika! Rika! Rika!”

______

Jung Eun  : “Rika, kenapa kamu begitu pada Ki Bum?.........”

Rika         : “Kenapa kamu membelanya?........”

Jung Eun                     : “......... Kalau menurutku dia menyukaimu.”

Rika         : “Apa?!..........”

______

 Ki Bum   : “...........Kau membuatku terus memikirkanmu dengan sikapmu yang begitu. Aku sungguh tidak bisa untuk tidak memikirkannya.”

Rika         : “Jadi, kamu menyukaiku?”


Jadi gimana nih? Bagus? Bagus? Bagus? Bagus lah ya.....
Note : R/R
Please kasih komentarnya ya kalo bagus. Kalo jelek juga kasih komentarnya.
Komentarnya sangat di tunggu, tunggu, tunggu...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar