Tittle : Dazzling Girl ( Chapter I )
Author : Lee Hana
Main cast : Kim Ki Bum, Rika ( Imaginary Cast ), Lee Jin Ki
Support Cast : Lee Tae Min, Kim Jong Hyun, Choi Min Ho dan Shin Jung Eun.
Genre :
Romance and Friendship
Length : PG-13
Sorry dori Stroberry.... ff yang kemarin aku hapus. Coz, aku
nggak dapet feelnya sih. Jadi aku ganti ini aja deh. Dijamin, ini lebih bagus.
Langsung aku kasih dua chapter sekalian deh. Aku baik kan?
Happy Reading.....
Seperti pagi-pagi
biasanya, di sekolah, sebelum pelajaran di mulai, semua kelas terdengar gaduh.
Murid-murid bicara, tak terkecuali dengan dua murid yang bernama Kim Ki Bum dan
Choi Min Ho, keduanya sedang asyik mengobrol tentang rap. Sesuatu yang jarang
orang perbincangkan.
Semenit kemudian kelas
menjadi hening, seorang guru datang.
Sebelum memulai pelajaran ia berbicara sedikit tentang anak baru yang ia
katakan pindahan dari Indonesia. Sekitar lima menit kemudian pintu kembali
terbuka, dan seorang gadis dengan gaya khasnya muncul.
Gadis itu memiliki tubuh ideal dengan wajah
asli Indonesia. Ia memakai seragam tetapi penampilannya cukup berbeda.
Bagaimana tidak? Lihat saja! Rambut hitam bergelombangnya ia kuncir ke pinggir,
menggantung indah hingga ke dada. Sedangkan leher yang biasa di hiasi dengan
kalung justru ia lingkarkan headset. Bagian bawah ia kenakan legging hingga ke
bawah lutut sebelum ia kenakan rok pendeknya. Melihat semakin ke bawah, terpasang
sepatu sport hitam putih dengan kaus
kaki sepanjang mata kaki. Sedangkan kulitnya sendiri berwarna kuning langsat
sedikit kecoklatan. Semua itu membuatnya terlihat sangat berbeda dengan
teman-temanya.
Ia berdiri di depan
kelas dan tersenyum tipis. “Hallo! Saya siswi pindahan dari Indonesia. Salam
kenal!” sapannya sopan dengan bahasa korea yang bisa dikatakan cukup bagus.
Rika memang baru pindah
sekitar sepuluh hari, tapi sejak di Indonesia ia sudah membiasakan diri
berbicara menggunakan bahasa korea dengan keluarganya, apalagi ia memiliki
seorang teman chatting yang berasal
dari negeri gingseng itu yang bersedia mengajarkannya. Sebenarnya ia sangat
berat hati meninggalkan Indonesia, tetapi karena ini adalah tuntutan dari
pekerjaan ayahnya yang merupakan seorang karyawan sebuah perusahaan, membuatnya
terpaksa tinggal di negara tersebut untuk sementara waktu. Sementara waktu? Ya,
Rika memang berencana akan kembali ke Indonesia meski tidak tahu kapan.
Setelah memperkenalkan
diri ia berjalan menuju sebuah kursi kosong yang ditempati oleh seorang gadis
bernama Shin Jung Eun. Sedangkan meja tepat di sebelah kirinya adalah meja yang
ditempati dua siswa populer, dan di sebelah kanannya adalah tembok. Jung Eun
duduk tepat di samping tembok, kemudian Rika di pinggir, tepat di samping
kirinya ada Choi Min Ho, setelah itu barulah Kim Ki Bum.
Kim Ki Bum, siswa
tampan dengan rambut cokelat berponi menyamping ternyata memperhatikannya
sedari tadi. Memperhatikan Rika sejak ia menginjakkan kakinya di kelas tersebut.
Ki Bum terus memandanginya bahkan setelah dia duduk. Sedangkan Choi Min Ho,
seperti biasanya, ia begitu cuek.
“Hallo! Aku Shin Jung Eun,” ujar Jung Eun menggunakan bahasa indonesia.
“Kamu bisa bahasa indonesia?” tanya Rika terkejut.
“Tentu saja, aku campuran
Indonesia Korea.”
“Aku Rika. Senang sekali bisa menggunakan bahasa indonesia denganmu Jung
Eun. Aku kira aku tidak akan menggunakannya selain pada keluargaku.”
“Hey, hey! Kim Ki Bum memandangimu,” ujar Jung Eun dengan mata
melirik-lirik ke arah Ki Bum. Tentu Rika menjadi penasaran dan menoleh ke arah
Ki Bum. Memandang Ki Bum dengan pandangan bingung, sedangkan Ki Bum buru-buru
memalingkan wajahnya ke depan setelah menyadari Rika melihatnya. Ki Bum
terlihat malu.
______
Rika
duduk bersama dengan Jung Eun di kantin. Mereka membuka kotak bekal mereka.
Jung eun membawa sandwich sedangkan
Rika membawa salad yang kemudian ia taburkan saus kacang di atasnya, membuat
Jung eun penasaran.
“Itu apa?” tanya Jung eun penasaran.
“Ini salad
ala betawi, gado-gado!” jawab Rika bangga. “Mau coba! Dijamin enak,” sambungnya lagi seraya menyodorkan makanan
itu ke hadapan Jung Eun. Rika memberikan sendoknya pada Jung Eun dan Jung Eun
pun mencobanya. Ia mengunyahnya perlahan untuk memastikan rasa yang menyentuh
lidahnya itu. “Bagaimana?” tanya Rika
menggebu-gebu.
Jung
Eun mengangguk mantap sambil mengunyah. “Enak.”
“Kalau begitu ini kita makan berdua saja. Aku
tidak akan habis sendirian. Mama menaruhnya sangat banyak,” ajak Rika.
Mereka
memakan gado-gado itu berdua. Tanpa mereka sadari banyak siswa yang memeperhatikan
mereka karena bahasa yang mereka gunakan, serta makanan yang mereka berdua
santap dengan lahap membuat yang lain penasaran, begitu juga Ki Bum. Tapi
sayang laki-laki jangkung yang berada di sebelahnya masih saja cuek. Karena itu
Ki Bum harus sedikit membujuk dan menarik tangan Min Ho untuk menghampiri dua
gadis keturunan Indonesia itu.
“Hallo!”
sapa Ki Bum dan Min Ho serentak.
“Hallo!”
balas keduanya.
“Makan
apa?” tanya Ki Bum penasaran, dan baru di saat inilah rasa cuek Min Ho hilang
dan melihat ke arah makanan di hadapan kedua gadis itu karena sama-sama
penasaran.
“Salad,”
jawab Rika pendek.
“Salad
apa itu? Kenapa ada cairan kental berwarna cokelat? Apa itu saus?” tanya Min Ho
yang biasanya diam itu.
“Ini
saus kacang. Makanan ini namanya gado-gado, makanan khas Indonesia,” jawab Rika
bangga.
“Apa
kalian mau?” tanya Jung Eun menawarkan seraya mendorong kotak makanan itu ke
arah dua laki-laki yang berdiri di samping Rika. Jung Eun melakukan itu untuk
mendapatkan simpati Min Ho. Asal tahu saja, sebenarnya Jung Eun menyukai
laki-laki itu secara diam-diam sejak setahun yang lalu. Min Ho memang sangat
berkarisma, karena itu wajar saja jika banyak gadis yang mengejarnya, meski
begitu Min Ho sendiri tidak menyadarinya. Ya kalian tahu sendiri alasannya,
cuek.
“Ini
enak. Boleh minta resepnya?” tanya Ki Bum terus terang dan Rika mengangguk
pelan. “Kalau begitu aku minta nomer ponselmu, nanti aku akan misscall ke ponselmu, setelah itu kau
bisa memberikan resepnya padaku lewat sms.”
“Tiba-tiba
aku ingin ke kamar mandi. Kalau mau minta nomerku pada Jung Eun saja. Aku
buru-buru. Oh iya! Kalau mau habiskan saja semua gado-gadonya, aku sudah
kenyang,” ujar Rika kemudian meninggalkan mereka bertiga dengan kesalnya. Ia
pergi sambil bersungut-sungut sendirian.
Min
Ho dan Ki Bum saling bertatap beberapa saat, kemudian bersamaan menatap Jung
Eun. “Eh, aku tidak punya,” ujar Jung Eun gugup kemudian segera pergi menjauh dengan
membawa kotak bekalnya, tetapi ia malah melupakan kotak bekal Rika dan
meninggalkannya. Sepertinya Jung Eun tidak tahan ditatapi Min Ho seperti itu.
“Apa
aku menyinggungnya?” tanya Ki Bum pada Min Ho seraya memandangi Jung Eun yang
tengah berlari kecil. Tapi Min Ho tidak menjawab, karena itu Key mengalihkan
wajahnya untuk melihat Min Ho. Tapi, oh tidak! Kini sahabatnya itu tanpa ia
sadari telah duduk rapi dan makan dengan begitu lahap, seperti orang yang belum
makan berhari-hari. Ki Bum terkejut melihat Min Ho, tapi apa boleh buat, Min Ho
memang sangat suka makan dan sepertinya ia memang sangat lapar. Ki Bum menatap
sahabatnya itu dengan heran. “Apa kamu tidak makan sejak kemarin?” olok Ki Bum tetapi
Min Ho mengangguk. Sepertinya Min Ho benar-benar menganggapnya sebagai
pertanyaan.
______
Jung
Eun masuk ke dalam kelas. Ia melihat Rika tengah mendengarkan musik dengan
wajah kesal. Menempelkan headset-nya
ke telinganya.
Rika
melihat Jung Eun menghampirinya dengan sebuah kotak bekal di tangannya, tapi
Rika tidak melihat kotak bekalnya. “Jung Eun, dimana kotak bekalku?” tanya Rika
khawatir.
Jung
Eun memukul keningnya kuat. “Aku lupa!” ujarnya dengan mata membulat. “Ma-maaf,
aku tadi begitu gugup jadi aku lupa,” ujar Jung Eun merasa bersalah.
Rika
terlihat sangat kesal sekarang. Ia seperti ingin mengerang, tapi beberapa detik
kemudian ia malah mendesah. “Ya sudah, tidak apa-apa. Aku akan ambil sendiri.”
Rika
segera berlari menuju kantin, tetapi sesampainya di sana tempat itu terlihat
sepi. Sepertinya itu karena waktu istirahat yang hampir berakhir. Rika
menghampiri meja yang tadi ia tempati. “Mana?” tanya Rika panik ketika melihat
meja itu kosong melompong, karena itu ia segera memutar tubuhnya untuk kembali
mencari. Tetapi......
Seseorang
muncul dengan tiba-tiba di hadapan Rika. Laki-laki dengan tubuh tinggi dan
atletisnya, yaitu Choi Min Ho. Rika tersentak karena terlalu terkejutya, bahkan
ia hampir saja terjungkal ke belakang, tapi untungnya Min Ho segera menarik
pinggangnya yang ramping dan menahannya dengan tangan kirinya, sedangkan tangan
kanannya memegang sebuah benda yang Rika cari dengan paniknya.
Mereka
sesaat saling bertatap, kemudian Min Ho melepaskannya. “Ma-maaf,” ujar Rika terbata. Alis Min Ho bertaut, sepertinya ia
tidak mengerti. Tentu saja, bahasa yang Rika gunakan adalah bahasa Indonesia.
Rika yang menyadari kesalahannya segera memegang mulutnya dan mengulangi
kata-katanya sekali lagi. “Maafkan aku.”
“Tidak
apa-apa. Aku yang harusnya meminta maaf.Aku hampir membuatmu jatuh.”
Rika
melihat ke arah benda yang Min Ho pegang seraya menunjuknya. “Itu, kotak
bekalku!”
“Iya,
tadi aku menghabiskan makananmu. Itu enak sekali. Terima kasih,” ujar Min Ho
ramah seraya memberikan kotak bekal itu. “Itu sudah aku cuci,” sambungnya lagi
Rika
tertegun sesaat. Ia merasa sangat senang mendengar kata-kata Min Ho, serta
sikapnya yang menurutnya sangat berbeda dengan laki-laki yang sering bersama Min
Ho itu.
Tiba-tiba
bel bertanda masuk berbunyi, karena itu mereka segera berlari menuju kelas. Mereka
berlari beberapa lama hingga tiba-tiba langkah Rika terhenti ketika melihat
seseorang tengah berjalan melewatinya. “Sepertinya aku pernah melihatnya. Tapi
dimana?” pikirnya lalu menengok ke belakang.
Lamunannya
terhenti ketika Min Ho memanggilnya. “Rika! Ayo!” ujar Min Ho seraya mengangkat
dan mengayun-ayunkan telapak tangannya, mengajaknya agar kembali berlari.
“Iya.”
Rika
kembali berlari, dan di saat itu laki-laki di belakangnya barulah menengok ke
arah Rika. Ia melihat gadis itu tengah berlari bersama Min Ho seraya berpikir.
Setelah
beberapa lama berlari akhirnya mereka sampai. Masuk ke dalam kelas dengan kasar
dan dengan nafas yang sama terengah-engah. Semua mata menatap ke arah mereka,
begitu juga guru yang telah datang lebih dahulu dari mereka, karena itu mereka
meminta maaf kemudian segera duduk.
“Kenapa
kamu bisa datang bersama Min Ho?” tanya Jung Eun cemburu.
“Tadi
dia memberikan kotak bekalku.”
Dan
di saat yang sama Ki Bum juga bertanya pada Min Ho dengan cemburu. “Kenapa
kalian bisa datang bersamaan?”
“Aku
tadi mengembalikan kotak bekalnya lebih dahulu.”
______
Sekarang
sudah sore, waktunya para siswa untuk pulang. Tapi saat ini sekolah hampir
sepi, hanya ada beberapa murid yang masih berada di dalam kelas atau pun
tempat-tempat lain di gedung sekolah. Sama seperti Rika, ia baru saja menutup pintu
kelas dan berniat untuk pulang.
Tiba-tiba
sebuah alunan musik terdengar. Itu adalah ringtone
Rika. Sebuah reff dari lagu berjudul Hallo
dari album repackage dari SHINee.
Rika
melihat nama yang muncul di layar ponselnya, kemudian mengangkatnya. Ia
mengobrol sambil berjalan menuju gerbang sekolah.
“Hallo!”
“Hallo!”
“Ada
apa Kak? Kenapa tiba-tiba menelepon?”
“Tidak
apa-apa. Tadi aku melihat seseorang yang mirip denganmu di jalan, karena itu
aku jadi ingat padamu. Ngomong-ngomong sekarang kamu jarang sekali chatting.”
“Iya.
Sejak beberapa minggu yang lalu aku dan keluargaku memang sibuk untuk kepindahan kami sekeluarga ke Korea. Dan
sekarang aku bahkan sudah tinggal di sini.”
“Serius?!
Aku senang mendengarnya. Kalau begitu apa boleh aku bertemu denganmu?”
“Tentu
saja. Aku juga ingin melihat Kakak secara langsung.”
“Sekarang
sedang apa?”
“Sedang
meneleponmu.”
“Jangan
bercanda! Aku bertanya serius.”
“Aku
sedang dalam perjalanan pulang. Aku baru saja selesai sekolah.”
“Benarkah?!
Jadi kamu sekarang bersekolah dimana?”
“Aku
sekarang bersekolah di......”
Rika
berhenti bicara ketika melihat seseorang yang berdiri beberapa meter di
hadapannya. Mereka sama-sama tengah menempelkan ponsel mereka di telinga
masing-masing, kemudian menjauhkannya perlahan secara bersamaan, seraya
memandangi apa yang berada di hadapan mereka dengan tatapan tidak percaya. Mereka
berjalan perlahan. Saling mendekat dan saling bertatap beberapa saat.
“Rika!”
“Kak
Jin Ki!”
“Kamu
sekolah di sini?!”
“Iya.
Ini hari pertamaku.”
“Kalau
begitu aku ucapkan selamat datang!” ujar Jin Ki ceria.
“Terima
kasih!” balas Rika tidak kalah ceria.
“Kamu
ternyata jauh lebih cantik jika dilihat secara langsung,” puji Jin Ki membuat
Rika sedikit malu.
“Kakak
juga sangat tampan,” balas Rika yang sama-sama membuat Jin Ki malu.
“Bukankah
kamu ingin pulang? Bagaimana jika aku antar? Aku bawa motor. Kebetulan adikku
sedang ada latihan tari, jadi aku pulang sendirian,” tawar Jin Ki ramah.
“Tidak
usah. Ayah akan menjemputku sebentar lagi,” tolak Rika halus.
“Baiklah
kalau begitu.”
Tiba-tiba
di sela obrolan mereka sebuah suara kembali terdengar. Itu adalah suara ringtone dari ponsel Rika.
“Dari
Ayah,” ujar Rika memberitahu Jin Ki, dan Jin Ki mengangguk.
Rika
memulai perbincangan dengan ayahnya. Perbincangan yang diawali dengan sebuah
pekikkan serta raut wajah kecewa dari Rika. Setidaknya itu yang Jin Ki tangkap
dari apa yang ia lihat dan dengar. Jin Ki tidak mengerti apa yang Rika katakan
karena ia menggunakan bahasa indonesia, hingga pada akhirnya perbincangan itu
ditutup dengan wajah muram Rika.
“Kenapa?”
tanya Jin Ki penasaran.
“Ayah
tidak bisa menjemput. Dia menyuruhku pulang menggunakan taksi,” jawab Rika
lemas.
“Kamu
bisa naik motorku, dan aku akan mengantarmu selamat sampai rumah,” tawar Jin Ki
untuk kedua kalinya. Kali ini Rika mengangguk, membuat senyum merekah di wajah
jinki.
“Baiklah
kalau begitu. Ayo!” ajaknya semangat.
Mereka
mulai berjalan menuju tempat parkir, tetapi baru satu langkah, mereka sudah
berhenti. “Ki Bum,” ujar Jin Ki ketika melihat sesosok laki-laki tengah berdiri
tidak jauh dari mereka.
______
Kim
Ki Bum kini sedang berdiri dengan bersandar pada gerbang sekolah. Rupanya ia
sedang menunggu seseorang. Seorang gadis yang telah mengambil perhatiannya
sejak Ki Bum pertama kali melihatnya. Gadis yang tidak lain adalah Rika.
Sejujurnya
ia menunggu untuk meminta maaf pada Rika. Ia merasa sedikit merasa bersalah
membuat Rika kesal, selain itu apa yang ia lakukan juga termasuk bagian dari
rencana pendekatannya. Saat ini ia sekaligus ingin mengajaknya pulang bersama,
atau hanya sekedar berjalan dan mengobrol bersama hingga halte bus. Tapi
sekarang sudah lewat setengah jam.
Ki
Bum melihat ke arah jam tangannya. “Kemana dia? Kenapa belum muncul?” tanya Ki
Bum bingung dan mulai tidak sabar, karena itu ia segera berjalan menuju kelas.
Ki
Bum terus berjalan hingga langkahnya terhenti ketika melihat sebuah pemandangan
yang membuatnya cemburu. Ia melihat Jin Ki dan Rika tengah mengobrol dengan
asyiknya. Mereka terlihat begitu dekat.
“Ki
Bum,” ujar Jin Ki setelah memutar tubuhnya dan mulai melangkah. Ia melihat Ki
Bum tengah berdiri di sana. “Sedang apa?”
“Aku...
aku sedang menunggu seseorang Kak,” jawab Ki Bum dengan raut wajah kecewa.
“Oh!
Siapa? Apa gadis yang kamu sukai?” terka Jin Ki tanpa tahu apa yang terjadi
sebenarnya.
..................................
To
Be Continued.....
______
Rika : “Hebat
sekali.”
Pemuda
itu menghentikan tariannya dan segera mengalihkan pandangan menuju gadis yang
masih saja berdiri di depan pintu. Gadis itu masih saja terpukau.
______
Perbincangan
di telepon :
Rika : “Kak, by the way yang kemarin terima kasih ya! Tapi lain kali tolong
ja.....Krek-krek.... nuuut nuuut nuuut.”
Jinki : “Rika! Rika! Rika!”
______
Jung
Eun : “Rika, kenapa kamu begitu pada Ki
Bum?.........”
Rika : “Kenapa kamu membelanya?........”
Jung
Eun : “......... Kalau
menurutku dia menyukaimu.”
Rika : “Apa?!..........”
______
Ki Bum :
“...........Kau membuatku terus memikirkanmu dengan sikapmu yang begitu. Aku
sungguh tidak bisa untuk tidak memikirkannya.”
Rika : “Jadi, kamu menyukaiku?”
Jadi
gimana nih? Bagus? Bagus? Bagus? Bagus lah ya.....
Note
: R/R
Please
kasih komentarnya ya kalo bagus. Kalo jelek juga kasih komentarnya.
Komentarnya
sangat di tunggu, tunggu, tunggu...

Tidak ada komentar:
Posting Komentar